Senin, 28 Januari 2013


Kata Motivasi Hidup

Jangan mengeluh masalahmu. Jika kamu merasa bebanmu lebih BERAT daripada yg lain, itu karena Tuhan melihatmu lebih KUAT daripada yang lain. 
Tuhan takkan pernah membiarkan dirimu terluka, Dia hanya ingin kamu belajar dari segala masalah. Percayalah padaNya.
 
Doaku pagi ini: Tuhan, beri aku kekuatan tuk bisa melalui hari ini, tuk menghadapi segala masalah yang kutahu hanya buatku dewasa.
 
Terkadang satu-satunya cara tuk menyelesaikan masalahmu adalah dgn membenarkan cara pandangmu, bkn masalahmu.
 
Mencari siapa yg salah takkan selesaikan masalah. Berdiskusi dan kerja sama, maka kamu dan dia mampu selesaikan segalanya.
 
Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak menyelesaikan masalah, dan mengalah bukan berarti kalah.
 
Jangan berpikir kamu JATUH karena masalah yg diberikan Tuhan, karena sebenarnya Tuhan hanya menginginkanmu belajar BERDIRI.
 
Amarah adalah cara termudah membuat masalah. Bersabar adalah salah satu cara agar terhindar dari masalah.
 
Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada alasan menyalahkan orang lain. Benahi diri sendiri dan jadi pribadi yang dewasa.
 
Ketika masalah datang menghampiri, itu artinya Tuhan menyayangi, bukan membenci. Tuhan hanya menguji keimanan dan kesabaran.
 
Sudahkah kamu tersenyum hari ini? Jangan biarkan masalah membuatmu lupa bahwa sebuah senyuman mampu meringankannya.
 
Tuhan melihat masalahmu, mengerti air matamu, & merasakan rasa sakitmu. Ia hanya sejauh doa-mu.
Selalu ada perbedaan dalam sebuah hubungan yang kadang menyebabkan masalah, tetapi juga perbedaan itu dapat menguatkan.
 
Seberat apapun masalah yg sedang menimpamu, tetaplah bersabar dan ikhlas. Hadapi dengan penuh tanggung jawab, pertolongan Tuhan pasti datang
 
Kau lbh kuat dr rasa sakitmu, lbh besar dr masalahmu, & lbh baik dr penghakiman org atasmu, selama ada Tuhan di hatimu.
 
Masalah terbesar pria: melupakan terlalu cepat. Masalah terbesar wanita: mengingat terlalu lama.
 
Jangan pernah terpuruk karena suatu masalah. Bersabar dan berdoalah, percaya, tak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan.
 
Masalah adalah cara Tuhan tuk membuatmu dewasa, jangan lari darinya tapi hadapilah. Hanya mereka yg membuatmu bijaksana.
 
Ketika masalah terasa berat, cobalah tuk menghela napas panjang dan tersenyum, itu akan membersihkan pikiran dan menambah semangat.
 
Setiap masalah ada jalan keluarnya. Kamu mungkin tak melihatnya, namun Tuhan tahu jalan keluarnya. Yakin dan percayalah padaNya.
 
Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada alasan untuk menyalahkan orang lain. Benahi dirisendiri dan jadi pribadi yang dewasa.
 
Kamu bebas memilih sikap dalam setiap masalah yang datang. Apapun pilihanmu, tetaplah menjadi dirimu sendiri.
 
Dibalik beratnya masalah yg dihadapi bangsa, yakinlah bahwa Tuhan tengah mempersiapkan bangsa ini menjadi bangsa besar.
 
Seberat apapun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tak pernah melebihi batas kemampuan kamu.
 
Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan bijak. Marah tidak menyelesaikan masalah, dan mengalah bukan berarti kalah.


Berpikirlah sebelum berbicara, karena dengan begitu, kamu akan mengurangi kesalahan pun masalah yang mungkin akan terjadi. 
Masalah apapun yg menimpa kita, ikhlaslah menerimanya sebagai akibat dari kelalaian kita, jangan menyalahkan orang lain.
 
Tak peduli masalah apa yang kamu hadapi, jangan lupa untuk berikan dirimu sendiri sebuah penghargaan, untuk bisa lebih baik ke depan.
 
Masalah tak seharusnya membuatmu menyerah. Karena masalah akan menguatkanmu, jika kamu mau belajar dan mengambil hikmah.
 
Berpikirlah sebelum berbicara, karena dengan begitu, kamu akan mengurangi kesalahan pun masalah yang mungkin akan terjadi.
 
Amarah tdk membuat masalah lbh mudah. Air mata tdk mengembalikan yg telah hilang. Krn itu senyuman adl balas dendam terbaik.
 
Sabar adalah cara yg harus digunakan untuk menyelesaikan masalah apapun. Seberat apapun masalahnya, akan cepat diselesaikan dengan kesabaran
 
Jangan pernah lari dari masalah, mereka akan selalu mengikutimu. Hadapilah, mereka akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat.
 
Jangan fokus pd masalahmu. Fokus pd Tuhan yang bisa memberikan solusi untuk masalahmu.
 
Tak sedikit masalah timbul akibat dari salah berucap. Hati-hatilah dalam berucap, hindari penggunaan kata-kata kasar.
 
Ketika masalah datang menghampirimu, jangan berharap akan dimudahkan, tapi berharaplah agar kamu dikuatkan untuk menyelesaikannya.
 
Wanita yg kuat tdk menceritakan masalahnya kpd semua org. Ia menghadapinya dgn senyuman & berbagi hny dgn mrk yg peduli.
 
Solusi untuk semua masalah dalam setiap hubungan sebenarnya sama: belajar mengerti satu sama lain.
 
Km merasa lbh baik bukan ketika smua masalah selesai, tp ketika km berhenti mengkhawatirkan masalahmu.
 
Ketika kamu berpikir untuk menyerah, ingatlah, Tuhan tak akan berikan cobaan melebihi kemampuanmu, Tuhan hanya menguji kesabaranmu.
 
Ia yg tepat bagimu adl ia yg tdk akan menyerah padamu atau meninggalkanmu. Ia yg tahu bahwa kau layak dipertahankan.
 
Kadang wanita memilih tuk sendiri, bukan karena menunggu dia yg sempurna, tapi karena mereka butuh dia yg tak pernah menyerah.
 
Kamu pantas bersama dia yg dpt membuatmu lbh baik tnp mengubahmu mjd org lain, dia yg takkan prnh menyerah pd kekuranganmu.
 
Menyerah bukan berarti kamu lemah, terkadang itu hanya berarti kamu cukup kuat untuk melepas kepergian.
 
Merelakan bukan berarti menyerah, tapi lebih kepada menyadari dan menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan.
 
Hormati setiap impian yang kamu miliki. Karena dari sanalah akan terbentuk semangat untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.
 
Jangan pernah menyerah atas impianmu. Rintangan memang kadang menjatuhkanmu, namun kamu harus bangkit dan terus melangkah.
 
Jangan biarkan mereka yg membencimu melihatmu jatuh. Tunjukkan kemampuanmu. Jangan menyerah. Be strong, prove them wrong!
 
Menyerah, hal termudah tuk dilakukan. Namun tuk terus bertahan ketika semua orang mengerti jika kamu menyerah, itu KEKUATAN SEJATI.
 
Jangan pernah menyerah, kamu lebih berani daripada yang kamu percaya dan lebih kuat daripada yang kamu pikirkan. Semangat!
 

Kadang meski sangat merindukan senyum seseorang, kamu terus menyakinkan dirimu, bahwa senyummu adalah hal yg harus diutamakan.
 
Amarah tdk membuat mslh lbh mudah. Air mata tdk mengembalikan yg tlah berlalu. Krn itu senyuman sllu mjd pembalasan terbaik.
 
Ia yang mampu mengatasi air matamu adalah ia yang pantas melihat senyumanmu.
 
Jangan menunggu orang lain tersenyum, tunjukkan mereka caranya..
 
Air mata takkan membunuhmu, hny menyembuhkanmu. Rasa sakit takkan menghancurkanmu, hny menguatkanmu. Ampuni, & tersenyumlah.
 
Tersenyum sangatlah mudah pada saat keadaan baik. Namun tantangan sebenarnya adalah menjaga senyum itu disaat keadaan memburuk.

Bekerja keras tanpa ilmu sama saja kosong, Punya ilmu tapi tidak bisa mengaplikasikan sama saja bohong, Tidak punya ilmu dan tidak mau bekerja, MAKA JANGAN HARAP BISA MERAIH SUKSES!!. 
Kita harus mempunyai tujuan yang jelas, perencanaan yang matang, mencari dan menggali segala potensi diri, bekerja keras, tekun dalam meraih tujuan dan BERDOA, proses itu harus anda lakukan dengan ILMU, OTAK, DAN JIWA.
 
Orang yang punya tujuan yang jelas dan bisa merencanakan kehidupan secara matang, berarti orang itu adalah orang yang berilmu dan punya Otak serta berjiwa dan berkarakter yang jelas dan pasti. 
Jika anda selalu RAJIN BERUSAHA dan TEKUN dalam meraih IMPIAN, maka bisa dipastikan kesuksesan akan dengan mudah kamu raih.
 
Seberapapun kecilnya nilai kesuksesan tersebut, kalau kamu menikmati dan merasakannya tentu akan membuahkan kebahagiaan dan kepuasan, itulah inti sebenarnya dari KESUKSESAN!!.
 
Buat apa mencari materi kalau kepuasan hidup terpinggirkan?? Ukuran SUKSES itu adalah BAHAGIA, KEPUASAN JIWA DAN KETENTRAMAN HATI.
 
Kesuksesan bermula pada saat kita menjaga pikiran agar tetap FOKUS pada hasil yang kita inginkan, bukan pada keterbatasan-keterbatasan kita.
 
Jika anda dapat membayangkannya, maka anda dapat mencapainya, Bila anda dapat MEMIMPIKANNYA maka anda dapat MEWUJUDKANNYA.
 
TUHAN telah menempatkan benih kesuksesan dalam tempat yang tepat ketika akan kita butuhkan, kesuksesan hidup dalam diri kita menunggu untuk BERSEMI, TUMBUH DAN BERBUNGA.
 
Kita bisa memulai dengan mengambil satu langkah kecil, Lakukan apa yang mampu kita lakukan hari ini, Ulangi kesuksesan dari langkah-langkah kecil tersebut setiap hari, Bukankah dari langkah yang kecil kita akan sampai juga pada garis akhir yang menjadi tujuan besar kita??.
 
Mulailah BERMIMPI, BELAJAR, BERENCANA DAN BEKERJA untuk apa yang anda inginkan hari ini. Potensi anda akan membuat ruang bagi pencapaian mimpi-mimpi anda, dan kesuksesan anda akan membawa nilai dan kesenagan bagi diri anda dan semua orang yang ada disekitar Anda.



Jumat, 18 Januari 2013

        KISI-KISI PSIKOLOG PENDIDIKAN


1.       Bab 4 tentang belajar dan pembelajaran
Sk
:
Memahami konsep belajar dan pembelajaran serta aplikasinya dalam pendidikan
Kd
:
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian, ciri-ciri, dan faktor yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran serta aplikasinya dalam pendidikan
ik
:
1.       Mahasiswa dapat menyebutkan definisi belajar dan pembelajaran
2.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan ciri-ciri prilaku belajar
3.       Mahasiswa dapat menybutkan dan menjelaskan faktor-faktor  yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran
4.       Mehasiswa dapat menjelaskan konsep belajar dan pembelajaran menurut teori behavioristik dan aplikasinya dalam pendidikan
5.       Mahasiswa dapat menjelaskan konsep belajar dan pembelajaran menurut teori kognitif dan aplikasinya dalam pendidikan
6.       Mahasiswa dapat menjelaskan konsep belajar dan pembelajaran menurut teori humanisme dan aplikasinya dalam pendidikan

2.       Bab 5 tentang evaluasi hasil belajar
Sk
:
Memahami konsep dasar evaluasi dalam belajar
Kd
:
Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan pengertian fungsi tujuan sifat-sifat prinsip alat-alat dan evaluasi aplikasi evaluasi pendidikan
ik
:
1.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan definisi evaluasi pendidikan
2.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan fungsi evaluasi pendidikan
3.       Mahasiswa dapat menybutkan dan menjelaskan tujuan evaluasi pendidikan
4.       Mehasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan sifat evaluasi pendidikan
5.       Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip-prinsip evaluasi pendidikan
6.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan alat-alat dan instrumen evaluasi pendidikan
7.       Mahasiswa dapat membuat instrumen evaluasi pendidikan



3.       Bab 6 tentang dianosis kesulitan belajar
Sk
:
Memahami konsep tentang dianogsis kesulitan belajar (DKB)
Kd
:
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian fungsi, prosedur pelaksanaan, dan aplikasi DKB
ik
:
1.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan pengertian DKB
2.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan tujuan DKB
3.       Mahasiswa dapat menybutkan dan menjelaskan fungsi DKB
4.       Mehasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan manfaat DKB
5.       Mahasiswa dapatmenyebutkan dan menjelaskan faktor penyebab kesulitan belajar
6.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan prosedur pelaksanaan DKB
7.       Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan aplikasi hasil DKB dalam pendidikan
8.       Mahasiswa dapat melakukan proses dan praktik DKB

Rabu, 26 Desember 2012

Tugas kuliah teori pembelajaran

                                                 TUGAS KULIAH TERORI PEMBELAJARAN 



LAPORAN TUGAS HARIAN
MAKALAH TEORI PEMBELAJARAN
MENAGPA EBTANAS DIPERTAHANKAN
DOSEN PENGAMPU : PANJI AGUS T.Mpd



DISUSUN OLEH:
                                                NAMA : Muhamad Ja’far Sidiq                    
NIM    : 40212098
KELAS/SEMESTER : PGSD 3 / 1

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP ISLAM BUMIAYU
2012/2013






DAFTAR ISI

Cover ------------------------------------------------------------------------------- 1
Daftar Isi  ---------------------------------------------------------------------------- 2
Bab I  Pembahasan ------------------------------------------------------------------ 3
            Mengapa Ebtanas dipertahankan  ------------------------------------------- 3
            Siapa Yang Diuntungkan Dengan Ebtanas---------------------------------- 5
Bab II  Tanggapan  ------------------------------------------------------------------ 6
A.     Tanggapan Para Ahli----------------------------------------------------- 6
B.     Tanggapan Penulis------------------------------------------------------- 6
Bab III      Kesimpulan dan Saran --------------------------------------------------- 7
A.    Kesimpulan -------------------------------------------------------------- 7
B.     Saran --------------------------------------------------------------------- 7







BAB I
PEMBHASAN
MENGAPA EBTANAS DIPERTAHANKAN
Banayaknya sekali argumen penghapusan Ebtanas oleh Mendiknas,yang sangat pragmatis yaitu wajib belajar 9tahun.Karena wajib belajar 9 tahun maka dari kelas 6 SD ke kelas 1 SLTP tidak perlu Ebtanas,padahal naik dari kelas 6 ke 7 perlu evaluasi belajar.Karena harus ada evaluasi maka sebagian orang daerah berfikir tentang penggantinya yaitu Ebtada.
Kalau penghapusan Ebtanas justru melahirkan Ebtada.Maka sesungguhnya tidak ada makna subtansial dari kepputusan Mendiknas tersebut.Hilanglah makna radikal sebagai perubahan.Tidak ada eformasi.
Sebagian kepala sekolah masih melaksanakan persipan-persiapan untuk Ebtanas,karena belum terima SK Mentri atau belum terima petunjuk pelaksanaan dari atas.Sementara ada sambungan positif,sebagai suatu yang telah lama ditunggu-tunggu.Karena selama ini Ebtanas tidak mencapai sasaran baik untuk memperoleh masukan buat perbaikan pengelolaan pendidikan atau peningkatan mutu atau sebagai laporan hasilbelajar.
Sudah berlangsung 16 tahun Ebtanas diselenggarakan,tetepi tidak pernah menjadi bahan untuk perbaikan.Sudah 16 kali Ebtanas diselenggarakan, hasil dari rata-rata tidak pernah berubah.Ini pun tidak mendorong upaya peningkatan mutu.Sudah 16 kali NEM digunakan sebagai tanda hasil belajar,tetapi lapangan pekerjaan dan perguruan tinggitidak mempergunakan sebagai pertimbangan kualitas pemegangnya.Ebtanas atau NEM bahkan talah ikut mengabaikan peran sekolah dan guru,karena keberhasilan NEM,lebih dirasakan sebagai hasil kerja bimbingan belajar.
Kesia-siaan Ebtanas pernnah dikritik BJ Habibie,karena modal soal pilihan ganda,memilih salah benar,dan isia sama sekali tidak melatih pengembangan daya pikir dan kemampuan ekspresi.Bahkan Prof. Andi Hakkim Nasution memandangnya sebagai upaya sia-sia yang justru membonsai perkembangan ilmu dan daya nalar murid.Argumen cara gampang ini patut disayangkan karena tidak menyentuh problem dasar dari keberatan terhadap Ebtanas.
Ada guru yang antusias menyambut dan merasa siberi kepercayaan untuk menilai hasil belajar anak didiknya.Telah lama ia merasa dibelunggu oleh target NEM,didikte oleh buku pelajaran atau terbitan swasta  dan dibukukan oleh GBPP.
Dengan penghapusan Ebtana,guru bisa lebih leluasa memilih bahan dan lebih kretif memilih cara,untuk memperoleh hasil perubahanperilaku,dan daya nalar muridnya.Tetapi ada pula guru yang bingung dan bertanya.Jadi apa penggantinya?Ebtada?Ebtasek?
Reaksi yang berbeda ini pasti disebabkan oleh latar belakang yanng berbeda pula.Dan sikap yang kedua dijadikan alasan oleh kaum tradisional yang kanservatif untuk menghukumi bahwa daerah atau guru belum siap untuk bertanggung jawab sendiri.Oleh karena itu  pengendaliaan birokrasi berupa petunjuk dab bimbingan masih sangat diperlukan atau bahkan menentang otonomisasi pendidikan.

Memang masih ada persoalan mendasar pada bangsa kita soal otonomi,yang bersumber pada otonomi manusia.Proklamasi kemerdekaan tahun 1945,memeng mengakhiri pemerintah jajahan.Bangsa indonesia memperoleh kemerdekaan.”Hal-hal yang mengenai pemmindahan kekuasaan” memeng dapat “diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya .”
Tetapi maslah kebebasan warga negaraindonesi memiliki “perbedaan”,yaitu peralihan dari cara hidup bangsa terjajah kecara hidup manusia bebas,ternyata sampai dengan reformasi sekarang ini masih tetap menjadi persolan besar.
Persoalan “independence” selesai dalam waktu singkat,tetapi perssoalan beralih menjadi masalah”freedom”,yang ternyata memerlukan waktu yang sangat panjang.
Perubahan cara hidup yang panjang itu berjalan dalam proses belajar dalam pendidikan.Maka kalau pendidikan tidak mengubah prilaku,jika pendidikakan tidak menumbuhkan emansipasi manusia ke kesdaran kemerdekaan, maka manusia tidak akan pernah mengecap kesadaran otonominya.
Bila Malik Fajdar tidak menyembunyikan  argumen ideologinya dan tidak mengganti dengan argumen dangkal,maka keputusan menghapus Ebtanas akan bernilai reformasi pendidikan.Dan dia tidak akan ragu menghapuskan Ebtanas tingkat SLTP dan SLTA, dan melimpahkan wewenang evaluasi kepada guru kelas.Maka guru mrndapat kepercayaan “independency”yang akan menjadi modal baginya membangun manusia otonom.Kelak akan menjalar pada proses belajar anak-anak,sehingga mereka dapat berubah dari cara hidup tergantung menjadi cara hidup otonom.










SIAPA YANG DIUNTUNGKAN  DENGAN EBTANAS
Kalau ada yang diuntungkakn dengan Ebtanas pasti bukan siswa,bukan guru,buka sekolah  dan bukan orang tua murid.Honor mengawas rata-rata Rp. 1500 per mata pelajaran  ujian.Honor memeriksa  rata-rata Rp. 100 per nomor ujian.Pendapatan guru dari Ebtanas tidak lebih dari Rp. 100.000,- Yang mendapat penghasilan besar adalah Kakanwil,Kakandep dan personil kantor lainnya dan kepala sekolah.Yaitu mereka yang menjadi penasehat,ketua  dan panitia lainnya.
Ebtanas memberikan tambahan penghasilan yanng tidak sedikit kepada birokrat pendidikan.Kalau Ebtanas dihapuskan yang rugi  adalah mereka karena  penghasilan tambahan dari Ebtanas juga ikut hapus.
“Kemerdekaan”siswa lepas Ebtanas dengan membajak bus kota,dan bocornya soal-soal yang akan diujikan adalah fakta kemubaziran Ebtanas,tetapi mengundang prilakukriminal.
Evaluasi belajar perlu dilakukan seperti disampaikan dimuka.Evalusi belajar secara nasional juga perlu dilakukan untuk mengukur pencapaian “standard nasional”.Jadi Ebtanas adalah ujian nasional atau Ebtanas diganti dengan Ujian Nasional.Depdiknas lebih dulu menentukan standar nasional dalam penguasaan pengetahuan tertentu yang bersifat Universal,umpammanya matematika, ilmu pengetahuan alam,ilmu pengetahuan sosial,bahas asing dan mengarang.Standarisasi inilah yang diumumkan untuk menjadi acuan guru dan sekolah.Depdiknas tidak lagi menyusun GBPP,AMP,Juklak,Juknis dan Surat Edaran untuk dilaksanaan secar teknis oleh guru.Biarkan guru memilih cara mengaajarnya sendiri dan memilih bahan ajar,untuk mencapai standard nasional.
Dengan menghapuskan Ebtanas dan menyusun standar mutu lulusan pandidikan dasar dan menengah,Depdiknas bisa menyelenggarakan ujian nasional.Tidak perlu tiap tahun, tapi bisa 3 atau 5 tahun sekali.Hasilnya  dikategorikan pada pencapaian standard minimal ,normal dan tinggi.Jadi hasilnya rata-rata pencapaian sekolah,rata-rata pencapaian daerah otonom.Melepaskan pengelolaan pendidikan kepada daerah otonom.Depdiknas mendorong tumbuhnya energi kreatif pada daerah.Depdiknas memberi bekal kemerdekaan denngan standar pencapaian setiap jenjang pendidikan.Untuk memperoleh siswa unggulDepdiknas dapat menyelenggarakan lomba-lomba, festival atau pekan prestsi belajar.
Lanhkah ini,mennghapus Ebtanas,merupakan langkah demokratis pendidikan dan reformasi pendidikan.Tidak ada manfaatbagi Depdiknas menynggarakan Ebtanas dimana hasilnya tidak pernah dan tidak dapat dipakai sebagai umpan balik peningkatan mutu pendidikan.







BAB II
TANGGAPAN


A.Tanggapan Para Ahli
1.Kesia-siaan Ebtanas,karena modal soal pilihan ganda,memilih salah benar,dan isia sama sekali tidak melatih pengembangan daya pikir dan kemampuan ekspres(BJ Habibie)
2.Ebtanas dipandang sebagai upaya sia-sia yang justru membonsai perkembangan ilmu dan daya nalar murid.Argumen cara gampang ini patut disayangkan karena tidak menyentuh problem dasar dari keberatan terhadap Ebtanas.( Prof. Andi Hakkim Nasution)
B.Tanggapan Penulis
Apa yang di paparkan diatas mengenai pernyataan Ebtanas Dipertahankan,memang tepat jika pernyataan ini di tunjukan kapada pendidikan di indonesia.Hal ini disebabkan karena Ebtanas tidak ada artinya bila masih dipertahankan bagi siswa,karena Ebtanas hanya permain para pengawas,kepala sekolah beserta para anggota yang ikut seran dalam Ebtanas sehingga hanya menguntungkan para mereka.Tidak ada artinya bagi peserta atau siswa yang melakukan Ebtanas karena sebelum diadakan Ebtanas para peserta udah diberi kunci jawaban maka para siswa tidak ada keseriusan dalam melakukan Ebtanas.Sehinga siswa hanya sebagai eksekutor dalam permainan Ebtanas dan yang diuntungkan adalah para pegawas,kepala sekolah dan para anggota Ebtanas.










BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai Ebtanas dan tanggapan berbagai para ahli yang telah  dipaparkan diatas,kita dapatmengambil suatu kesimpulan bahwa pada intinya Ebanas yang ada di indonesia memang tidak ada artinya bagi para peserta atau siswa yang melakukan Ebtanas.Meraka melakukan Ebtanas hanya sebagai kegiatan yang harus di laksanakan dan mendapatkan nilai yang baik tanpa ada keseriusan dalam melaksakan.
B.Saran
Dari pembahasan yang ada diatas kita hanya bisa menyarankan kepada MENDIKNAS(menteri pendidikan nasional). Sesungguhnya Ebtanas harus diubah dalam sistemnya apa bila masih dipertahankan maka hanya mebodohkan para siswa atau peserta sehingga pesserta atau siswa hanya memiliki ketergantungan kepada orang lain dan tidak bisa menyampaikan kemampuan yang di miliki oleh diri sendiri.

Rabu, 19 Desember 2012

MATERI KULIAH FILSAFAT

Filsafat Islam Pasca-Ibn Rusyd/Filsuf Islam Pasca-Ibn Rusyd/Ibn Taimiyyah
Dari Wikibooks Indonesia, sumber buku teks bebas berbahasa Indonesia
Fenomena Filsafat Dan Mantiq Ibn Taimiyyah Oleh: Ilham Mustofal Ahyar
فمنه نتعلم وبه نتكلم وفيه ننظر ونفكر وبه نستدل ونحكم
Iftitah
Disamping fitrah untuk beragama yang ditanamkan Tuhan dalam jiwa manusia semenjak masih berada dalam rahim, manusia juga dibekali fitrah untuk berfikir yang merupakan sebuah potensi dahsyat dalam diri manusia, potensi ini bukan hanya membedakan manusia dengan makluk Tuhan yang lainnya, sebutlah tumbuhan, hewan, benda-benda mati, atau bahkan malaikat dan jin, lebih dari itu sekaligus mengantarkan manusia pada capaian-capaian kehidupan yang sangat mengagumkan secara spiritual maupun material, tersirat secara jelas dalam firman Allah SWT.:
وإذ قال ربك للملائكة إنى جاعل فى اللأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إنى أعلم ما لا تعلمون ( البقرة: 30)
Dalam ayat ini Allah menjawab keraguan malaikat yang mengkhawatirkan akibat negatif dari penciptaan manusia sebagai penguasa (khalîfah) di dunia, dengan ucapannya: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui", kata-kata ini mengisyaratkan adanya potensi yang besar dalam diri manusia yang bahkan tidak diketahui para malaikat, sampai kemudian Allah SWT.memerintahkan Adam ِِِuntuk membuktikannya:
قال يا أدم أنبئهم بأسمائهم....
Bahwa potensi itu adalah rasionalitas yang berpadu dengan spiritualitas, rasionisasi yang menggerakkan spiritualitas ini, juga yang menggerakkan manusia untuk bertanya dan mencari sekian juta hal yang memenuhi kehidupannya; tentang alam, kehidupan, kematian, pencipta, masa depan dan sebagainya. Namun tidak berarti fitrah rasionalitas ini berjalan tanpa problem, dimana pada perjalanannya kita bisa melihat kasus-kasus historis yang menghadapkan kepada kita betapa kegagalan rasionalitas itu pula yang menjerumuskan manusia kedalam liang-liang penghancuran dirinya sendiri, kita bisa ambil contoh dari pengandaian sebagian manusia bahwa kemampuan akal manusia dapat mengurai dan memecahkan segala sesuatu telah melahirkan kaum atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan.
Sekilas Filsafat Islam
Filsafat Islam muncul sebagai imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran dari buku-buku peradapan Yunani dan peradaban-peradaban lainnya pada masa kejayaan Daulah Abbasiah, dimana pemerintahan yang berkuasa waktu itu memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan ini, sehingga para ulama bersemangat untuk melakukan penerjemahan dari berbagai macam keilmuan yang dimiliki peradaban Yunani kedalam bahasa Arab, dan prestasi yang paling gemilang dari gerakan ini adalah ketika para ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat yang mejadi maskot dari peradaban Yunani waktu itu, baik filsafat Plato, Aristoteles, maupun yang lainnya. Sebenarnya gerakan penerjemahan ini dimulai semenjak masa Daulah Umawiyyah atas perintah dari Khalid bin Yazid Al-Umawî untuk menerjemahkan buku-buku kedokteran, kimia dan geometria dari Yunani, akan tetapi para Ahli Sejarah lebih condong bahwa gerakan ini benar-benar dilaksanakan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiah saja, dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Manshur (136-158 H) hingga masa pamerintahan AL-Ma'mun (198-218 H) , dimana penerjemahan ini tidak terbatas pada beberapa bidang keilmuan saja,akan tetapi meliputi berbagai cabang keilmuan sehingga kita bisa melihat lahirnya para ilmuan besar pada masa ini, contohnya Al-Kindi (155-256 H) seorang filosof besar yang menguasai beraneka bidang keilmuan, seperti matematika, astronomi, musik, geometri, kedokteran dan politik, disamping nama-nama besar yang muncul setelahnya, sebut saja Ar-Razi, Ibn Sina (370-428 H), Al-Farabi (359-438 H) dan yang lainnya .
Sebagaimana kajian Islam mengambil berbagai tema untuk bahan kajian tentang logika, etika, politik, metafisika dan lainnya, yang telah lebih dulu dikaji oleh bangsa Yunani, sehingga sangat dimungkinkan bahwa kajian-kajian filsafat islam dalam tema-tema ini dipengaruhi oleh filsafat Yunani, akan tetapi sesungguhnya filsafat Islam dalam beberapa sisi secara independen memiliki karakteristik yang berbeda dari filsafat Yunani. Filsafat Islam bukanlah filsafat Aristotelian yang tertulis dalam bahasa Arab ataupun filsafat Platonisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dari upaya ahli kalam dari kelompok Mu'tazilah maupun Asyâ’irah untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang rasional, bahwa akal merupakan unsur penting dalam agama ini, sehingga mereka membungkus filsafat dalam baju keagamaan, dan dari situ mereka memahami agama Islam dengan corak filosofis. Akan tetapi selanjutnya keinginan para filosof Islam untuk memperlihatkan agama Islam dalam suatu gambaran rasional menyebabkan mereka menafsirkan sebagian persoalan ke-islam-an yang bersifat ideologis (akidah) dengan teori-teori filsafat, hal ini oleh sebagian umat islam dipandang menyalahi cara berpikir dan akidah agama Islam, maka mulailah mereka mewaspadai dan mengkritik para filosof Islam tersebut.
Ke-filosof-an Ibn Taimiyyah
Sejak awal mula Ibn Taimiyyah menggeluti filsafat, tujuannya bukanlah untuk mendalami dan memahami ilmu ini untuk kemudian mengambil manfaat yang mungkin bisa diambil darinya, akan tetapi sebaliknya untuk mencari sisi-sisi kesalahannya untuk kemudian merubuhkan bangunannya, karena dalam pandangannya filsafat telah menjadi semacam penyakit yang menyerang pemikiran orang-orang Islam, bahkan ia berpendapat bahwa sebelum seseorang mendalami akidah Islam maka ia harus membersihkan diri dari segala hal yang berbau filasafat yang menurutnya dihasilkan dari kebohongan angan-angan dan bayangan , sikap Ibn Taimiyyah ini kalau kita telusuri lebih jauh merupakan dampak dari kondisi politik dan sosio-kultural masyarakat muslim pada waktu itu:
A. Kondisi Politik
Pada abad ketujuh dan kedelapan yang merupakan masa penghabisan Daulah Abbasiah, kaum muslimin telah terpecah-belah dalam kerajaan-kerajaan kecil yang antara satu dengan yang lainnya saling memusuhi. Lebih dari itu, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapat ancaman besar dari tiga sisi: serangan bangsa Tartar dari arah timur (Mongolia), serangan pasukan Perang Salib yang terus mendesak dari arah barat, serta ancaman akibat perpecahan dari umat Islam sendiri, sampai-sampai Ibn Al-Atsir dalam kitabnya "Al-Kamil" mengatakan: "Agama Islam dan kaum Muslimin pada waktu ini benar-benar ditimpa oleh musibah yang belum pernah menimpa satupun dari umat-umat sebelumnya…".

B. Kondisi Masyarakat
Sejak perang salib berkecamuk pada awal abad kelima Hijriah, terjadilah berturan-benturan peradaban antara barat (Eropa) dan timur (Arab), benturan-benturan ini dengan dahsyatnya berpengaruh terhadap kebudayaan, adat, pemikiran, bahkan kehidupan beragama. Begitu juga ketika bangsa Tartar mulai masuk dari arah timur dengan membawa kebiasaan, pemikiran, dan tabiat-tabiatnya. Benturan-benturan tersebut mengakibatkan disosialis yang berkepanjangan dalam berbagai aspek kehidupan kaum Muslim, ketakutan akan terjadinya perang menyebabkan terjadinya gelombang-gelombang pengungsi yang mengakibatkan bercampur-aduknya penduduk daerah satu dengan daerah yang lainnya, seperti penduduk Irak yang mengungsi ke Syam ketika bangsa Tartar menyerangnya, penduduk Mughol mengungsi ke Damaskus, yang kemudian bersama penduduk Damaskus mengungsi ke Mesir dan bahkan ada yang mengungsi sampai ke Maroko. Percampuran-percampuran secara terpaksa ini mau tidak mau ikut pula mencampur-adukkan corak kejiwaan, pemikiran, dan kemasyarakatan kedalam suatu adat (kebiasaan) yang berbeda, sehingga dari sini munculah suatu kumpulan "masyarakat terpaksa" yang tidak mempunyai pegangan dan ketenangan, dan kumpulan masyarakat ini terpusat di satu titik, yaitu Mesir.
C. Kondisi Pemikiran
Sebelum masa Ibn Taimiyyah sudah banyak tersebar aliran-aliran pemikiran yang antara satu dengan yang lainnya tidak jarang terjadi perselisihan-perselisihan, hal ini menyebabkan terbentangnya jarak antara pengikut aliran yang satu dengan yang lainnya. Perpecahan tersebut mencapai puncaknya pada masa Ibn Taimiyyah (abad ketujuh sampai awal abad kedelapan), dimana pertentangan-pertentangan tersebut mengakibatkan terpecah-belahnya para ulama dalam berbagai golongan. Di tengah keadaan ini, mencuatlah para filosof Islam yang berusaha mensinkronkan antara filsafat dengan agama sebagaimana dilakukan oleh para pengikut Ikhwan As-Shofa, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Di sisi lain muncul pula para ulama yang berusaha menggabungkan antara akal dan teks seperti Muhyiddin An-Nawawi dan Fakhruddin Ar-Razi, kemudian disusul dengan munculnya para sufi yang berusaha menggabungkan antara metode filsafat akal dengan kemurnian jiwa sampai kemudian berakhir pada filsafat jiwa (spiritisme), dimana ajaran-ajaran kesufian disokong penuh oleh pemerintahan yang berkuasa waktu itu sampai kemudian banyak bermunculan apa yang disebut Ibn Taimiyyah sebagai "khurafat", masyarakat yang terlalu mendewakan ulama, dan pengagung-agungan terhadap kuburan. Dari kondisi semacam ini timbul-lah perdebatan pemikiran yang amat sengit diantara para ulama, perang dalil dengan mengatasnamakan agama tidak dapat dihindari untuk mengalahkan dan menguasai lawannya demi kepentingan golongan, tanpa mencoba untuk saling mengerti dan memahami untuk kedamaian bersama.
Dalam milleu seperti inilah seorang Ibn Taimiyyah tumbuh, dengan berbekal latar belakang keluarga sederhana -pengikut Imam Ahmad bin Hambal- yang memegang teguh ajaran agama serta keceerdasannya, ia keluar dari sarangnya untuk meluruskan ajaran-ajaran agama yang dianggapnya sudah melenceng jauh dari pakem yang seharusnya dilalui, khususnya dalam bidang filsafat dan penggunaan akal manusia yang melampaui batas. iapun banyak bertentangan dengan para ulama-ulama besar waktu itu, ini dapat kita lihat dalam karya-karyanya yang banyak mengkritik Ibn Sina, al-Razi, al-Asy'ari, al-Ghazali sampai Ibn Rusyd baik dalam mantiq, filsafat maupun tasawwufnya.
Ketegasan Dibalik Ketakutan
Dalam karyanya "Dar’u Ta'ârudh al-'Aql wa al-Naql", Ibn Taimiyyah membuka kitabnya dengan mengkritik kaum filosof sebagai "Ahli Bid'ah", disini ia secara langsung menukil pernyataan Ar-Razi yang disebutnya sebagai "pegangan ahli bidah" (pegangan kauf filosof, pen.) yang berbunyi:
"Ketika dalil 'aql dan naql saling bertentangan, atau ketika teks naql dengan realita akal saling bertentangan maka kemungkinan pemecahannya ada beberapa macam: a. Adakalanya dengan memadukan keduanya, dan ini jelas-jelas tidak mungkin; b. Atau menolak kedua-duanya, dan hal ini pun juga tidak mungkin; c. Atau dengan mengedepankan naql/teks, ini pun juga tidak mungkin, karena akal adalah sumber teks, apabila kita mendahulukan naql maka hal ini merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap akal yang merupakan sumber naql, dan penghinaan terhadap sumber sesuatu merupakan penghinaan terhadap sesuatu itu sendiri, maka pendahuluan naql merupakan penghinaan terhadap akal dan naql; d. Maka wajib mendahulukan akal untuk selanjutnya naql/teks mungkin ditakwilkan dan kalau tidak mungkin maka ditiadakan."
Ibn Taimiyyah memandang ucapan Ar-Razi diatas sebagai pedoman umum yang dipakai oleh kaum filosof dalam menentukan apa saja yang bisa dijadikan dalil dari Kitab Allah SWT dan ucapan para Nabi, disamping apa saja yang tidak bisa dijadikan dalil dari keduannya, menurutnya karena itulah kaum filosof menentang pengambilan dalil dari apa yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul tentang sifat-sifat Allah SWT dan berbagai hal yang mereka beritakan, kaum filosof berpendapat bahwa akal tidak dapat menerimanya. Pedoman seperti ini menurut Ibn Taimiyyah menjadikan masing-masing kaum filosof meletakkan dasar-dasar independen dalam menyikapi setiap hal yang dikabarkan oleh para Nabi dan Rasul tentang Allah SWT, sehingga selanjutnya mereka meyakini bahwa inti-dasar yang mereka yakini kebenarannya adalah apa yang mereka perkirakan bahwa akal mereka bisa mengetahui dan mencernanya dan meletakkan segala yang dikabarkan oleh para Nabi dan Rasul tunduk mengikuti garis-garis metode akal yang mereka ciptakan, untuk kemudian yang cocok mereka ambil dan yang mereka rasa tidak cocok mereka buang.
Analisa Ibn Taimiyyah diatas agaknya lebih didasari oleh ketakutannya akan pengaruh-pengaruh luar yang ia rasa dapat mengancam kemurnian dan kesucian kepercayaan yang diyakininya, hal ini sebenarnya masih dalam batas-batas kewajaran melihat latar belakang keluarganya yang dengan teguh berjalan diatas rel madzhab Hanbali, seorang murid Asy-Syafi'i yang terkenal memegang teguh ajaran-ajaran Alqur'an dan As-Sunnah, dimana sudah sepatutnya baginya untuk mempertahankan keyakinannya dalam kondisi yang morat-marit akibat peperangan yang berkepanjangan dan benturan peradaban yang sedikit banyak mengakibatkan menimbulkan pesimisme terhadap sebagian besar kaum muslim.
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Ibn Taimiyyah mendalami filsafat bukanlah untuk memahami dan menyingkap kebenaran yang mungkin didapatkan didalamnya, melainkan untuk menghancurkan sendi-sendinya, maka dalam analisanya tetang metode Kaum Filosof yang dianggabnya sebagai ahli bid’ah dalam menguraikan nash membagi metode-metode kaum filosof dalam dua kelompok:
D Metode penggantian (tabdil), yang diikuti oleh dua golongan:
1. Kaum Pengkhayal
Kelompok ini menurutnya, berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul mengabarkan tentang Allah SWT, Malaikat, hari akhir, surga dan neraka serta hal-hal ghaib lainnya dengan ungkapan-ungkapan yang tidak cocok dengan yang sebenarnya, sebaliknya mereka mengabarkan kepada umatnya berdasarkan atas khayalan-khayalan yang mereka buat tentang keagungan Allah SWT, kenikmatan inderawi atau siksa badani yang akan mereka dapatkan di akhirat, walaupun mereka mengetahui bahwa yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Akan tetapi untuk memberikan kepada umatnya pemahaman, mereka melakukan hal ini, jadi menurut kelompok ini , walaupun hal ini merupakan suatu bentuk kebohongan, akan tetapi dilakukan untuk kebaikan umat, karena dakwah mereka tidak dapat dimungkinkan kecuali dengan cara ini.
Sebagian dari kelompok ini menganggap bahwa kedudukan para filosof dan wali lebih utama dibandingkan dengan para Nabi dan Rasul, karena mereka mengetahui yang sebenarnya, dan sebagian yang lain menganggap para Nabi dan Rasul lebih mulia dibanding filosof dan wali, karena mereka mengira bahwa para Nabi dan Rasul mengetahui yang sebenarnya akan tetapi mengabarkan pada umatnya dengan apa yang dapat diterima oleh umatnya. Kelompok ini banyak diikuti oleh golongan Filsafat Kebatinan dan para pengikut Ikhwan al-Shofa, juga Al-Farabi, Ibn Sina, al-Syahrurdi al-Maqthul dan Ibn Rusyd.

2. Kaum Perubah dan Pentakwil
Kaum ini berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul tidak mengungkapkan tentang Allah SWT, malaikat, surga dan neraka serta perkara ghaib lainnya kecuali untuk kebenaran, dan kebenaran adalah apa yang diketahui dan dibuktikan oleh akal kita, maka kemudian mereka mencoba untuk mentakwilkan ucapan-ucapan ini dengan apa yang mereka pandang cocok dengan pendapatnya, dengan beragam takwilan yang membawa bahasa asalnya untuk keluar dari pengertian yang sebenarnya, seperti halnya mereka merubah suatu lafadz dari satu makna ke makna lain yang mereka inginkan tanpa bertujuan untuk mengetahui maksud pembawa lafadz, walaupun sebenarnya mereka mengetahui maksud sebenarnya dari Sang Mutakallim. Jika setiap pentakwilan tidak bertujuan untuk menjelaskan makna yang dimaksud dari pembawa lafadz maka menurut Ibn Taimiyyah mereka telah melakukan kebohongan dengan menutupi makna asalnya, karena itulah menurutnya sebagian besar kaum filosof tidak secara tegas menyatakan takwilannya, akan tetapi kebanyakan mereka mengatakan: “ ini boleh dimaksudkan begini…” dan sebagainya yang tujuannya untuk menunjukkan adanya kemungkinan-kemungkinan dalam suatu lafadz. Secara global menurutnya, ini adalah metode kebanyakan ahli kalam, seperti: Mu’tazilah, Kullabiyah, Salimiyah, Karramiyah dan Syi’ah.
E Metode Pembodohan
Inilah yang menurut Ibn Taimiyyah sebagai ahli kesesatan dan kebodohan, dimana mereka berpedoman bahwa para Nabi dan Rasul serta seluruh pengikutnya adalah orang-orang bodoh lagi sesat, yang tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah SWT dari apa yang disifati-Nya untuk diri-Nya sendiri yang tertuang dalam ayat-ayat-Nya. Adapun sebagian lain dari kelompok ini mengatakan bahwa kandungan dari ayat-ayat Allah SWT sebenarnya bertentangan dari apa yang tampak dari lahiriyah teks, dan tidak ada satupun dari para Nabi, Rasul, Malaikat, Sahabat dan Ulama yang mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah seperti halnya mereka tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat.
Antara Ibn Taimiyyah dan Al-Ghazali
Berbeda dengan Ibn Taimiyyah, Al-Ghazali mempelajari dan mendalami filsafat adalah untuk menyingkap kebenaran-kebenaran yang mungkin akan ditemukan didalamnya, yang mana dalam hal ini ia berpedoman, bahwa keraguan adalah sarana untuk sampai pada keyakinan. Setelah mendalami filsafat ia mendapatkan kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan oleh para filosof, maka kemudian ia mencoba untuk keluar dari filsafat dan kembali kepada agama serta menenggelamkan dirinya dalam dunia kesufian untuk selanjutnya menggunakan pengetahuannya tentang filsafat untuk menyingkap kesesatan-kesesatan para filosof dalam karyanya “Tahâfut Al-Falâsifah”. Akan tetapi pada kenyataannya Al-Ghazali tidak bisa benar-benar lepas dari filsafat, dimana dalam jiwanya masih tersisa pengaruh filsafat, karena ketika ia memutuskan untuk meninggalkan filsafat, pikirannya sudah terbentuk kedalam pola pemikiran filsafat, bahkan kemudian ia mengambil salah satu cabang filsafat sebagai bahan kajian utamanya, yaitu ilmu mantiq yang menurutnya merupakan salah satu unsur dasar dalam mempelajari Ushul Fiqh, ia meyakini bahwa tidak mungkin memahami suatu keilmuan secara sempurna kecuali dengan ilmu mantiq.

Kritik Ibn Taimiyyah terhadap Al-Ghazali tentang kejadian jisim dan alam
Ketika Al-Ghazali menjelaskan tentang kesalahan kaum filosof tentang pengingkaran Wujud Yang Pertama sebagai jisim, dikarenakan mereka mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang kadangkala mengharuskan penggabungan antara dua hal yang bertentangan, atau kadangkala membuang keduanya, maka disini Ibn Taimiyyah mengkritik dalil-dalil yang digunakan Al-Ghazali dan pengikutnya yang hanya memasukkan sedikit saja dalil-dalil Qur’an dalam penjelasannya, ia menganggap Al-Ghazali dan pengikutnya seolah-olah tidak mengetahui atau mengabaikan dalil-dalil Qur’an yang dianggapnya lebih cocok untuk diterapkan. Sebagaimana dalam masalah kejadian alam dimana Al-Ghazali dan pengikutnya hanya memfokuskan kritikannya pada dua ungkapan kaum filosof:
1. Ungkapan tentang hal lebih dulunya alam (Qidam Al-‘Alam), dimana menurut para filosof apabila hal ini muncul dari adanya sebab yang mewajibkannya, maka akibat harus bergandengan dengan sebabnya dalam hal kekekalan dan keabadiannya.
2. Ungkapan bahwa perkara yang dikerjakan munculnya dibelakang penciptanya, dan bahwa pencipta tidak boleh selalu bersabda dan berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya.
Kemudian Ibn Taimiyyah membeberkan bahwa dalam pandangannya Al-Ghazali dan pengikutnya mengabaikan ungkapan yang benar yang telah disepakati oleh ulama salaf, bahwa akibat datangnya selalu mengiringi Sang Maha Penyebab, dimana apabila ia berkehendak mencipta sesuatu, maka sesuatu itu akan muncul mengiringi penciptaan itu, sebagaimana sabda-Nya: إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون “Sesungguhnya perintahnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘jadilah’ maka terjadilah ia” Dan inilah yang menurut Ibn Taimiyyah bisa dicerna oleh akal, yang menurutnya hanya boleh menerima hal-hal yang sederhana dan pasti (badihi), sebagaimana jatuhnya talak beriringan dengan pentalakan dan datangnya kebebasan beriringan dengan pembebasan. Maka yang Allah SWT inginkan akan terwujud dan yang tidak ia kehendaki tak akan pernah ada. Sudut pandang lain Ibn Taimiyyah terhadap filsafat
Kita semua hampir sepakat bahwa Ibn Taimiyyah merupakan sosok ulama yang menentang filsafat dengan keras, juga terhadap segala pemikiran keagamaan yang dibumbui oleh campur tangan akal. Akan tetapi kalau kita menelusuri lebih jauh sosok ini, kita akan menemukan warna yang berbeda dalam pendapatnya, warna yang menurut penulis menunjukkan kapasitas kaulamaannya secara murni tanpa dipengaruhi oleh gejala politik dan sosio-kultural yang berkecamuk pada zamannya, hal ini terungkap ketika ia menjelaskan tentang kemungkinan masuknya akal pada kehidupan agama dalam menjelaskan makna ayat-ayat Allah SWT, dengan batasan tidak untuk mengurai Dzat Allah SWT. Coba kita simak ungkapannya berikut ini:
“Adapun pengetahuan tentang makna ayat-ayat yang disampaikan Allah SWT selagi tidak dalam lingkup ketuhanan-Nya, maka pemikiran dan perkiraan bisa masuk kedalamnya, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an. Karena itulah, banyak dari ahli ibadah dan kaum sufi yang menganjurkan untuk melanggengkan dzikir dan menjadikannya sebagai pintu untuk sampai kepada kebenaran, hal ini akan lebih bagus apabila digabungkan dengan bertadabbur atas kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan banyak juga dari para pemikir dan ahli kalam yang menganjurkan untuk selalu berpikir dan merenung sebagai jalan untuk mengetahui kebenaran. Kedua metode ini mempunyai sisi kebenaran masing-masing, akan tetapi masih membutuhkan kebenaran yang terdapat pada yang lainnya, dan keduanya harus dibersihkan dari kesesatan-kesesatan yang mungkin masuk dalam keduanya dengan cara mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Allah SWT dan para Rasul-Nya.”
Dalam lembaran lainnya Ibn Taimiyyah kembali membuktikan kapasitasnya sebagai seorang mujaddid dengan membagi ilmu dalam dua golongan:
1. Ilmu yang didapat dari akal. Seperti matematika, kedokteran, perdagangan dan sebagainya, yang selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu filsafat yang berupa mantiq, ilmu alam dan astronomi yang berasal dari India dan Yunani beserta ilmu-ilmu lain dari Romawi dan Persia, ketika masuk dalam dunia Islam, orang-orang Islam mengoreksi, memperbaiki dan menyempurnakannya dengan berbekal kekuatan akal dan kefasihan bahasanya. Maka menurutnya ilmu-ilmu ini dalam tangan kaum muslim menjadi lebih sempurna, lebih mencakup dan lebih gamblang, walaupun selanjutnya ia mengecualikan permainan akal dalam masalah agama, khususnya dalam masalah ketuhanan. 2. Ilmu yang dihasilkan dari petunjuk para Nabi dan Utusan.
Telaah Mantiq Ibn Taimiyyah
Ibn Taimiyyah mendapatkan pengetahuan tentang mantiq dengan mempelajari mantiq Aristoteles (322-384 SM) dimana sebagian besar ulama muslim berkiblat kepadanya, sebagaimana ia mempelajari filsafat, iapun mempelajari mantiq untuk mencari titik kelemahan dari ilmu ini, dan setelah ia merasa cukup ia pun mulai memberontak terhadap ilmu yang dianggapnya sebagai ilmu orang-orang murtad ini, ia menggerakkan masyarakat disekitarnya untuk menentang keberadaan ilmu ini dalam dunia Islam, dengan menjelaskan bahwa mantiq merupakan barang asing bagi ranah pemikiran Islam, dan untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam tidak membutuhkan ilmu ini. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa mantiq sama sekali tidak dapat digunakan sebagai timbangan kebenaran sebagaimana selama ini didengungkan oleh kaum filosof, karena menurutnya mantiq hanyalah berisi khayalan dan angan-angan.
Tidak cukup sampai disini, ia mengungkapkan bahwa sebenarnya para fuqaha sebelum masa Al-Ghazali memandang mantiq dengan pandangan kebencian dan penuh waspada terhadapnya dengan tujuan untuk menjaga ilmu Islam. Al-Ghazali lah yang menurutnya sebagai orang pertama yang menyatakan keharusan mengambil mantiq untuk menyempurnakan ilmu-ilmu keislaman. Ia kemudian mengkutip ungkapan Ibn Sholah yang menuturkan kesesatan ilmu mantiq: “Mantiq adalah pengantar filsafat, dan pengantar kesesatan adalah sesat, dan bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya bukanlah perkara yang diperbolehkan oleh Pembuat Syari’at, dan tidak ada satupun dari para Sahabat, Tabi’in, dan Imam Mujtahid yang memperbolehkanya, sebagaimana pula para Ulama Salaf dan pengikutnya”
Selanjutnya Ibn Taimiyyah mengkritik pengunaan istilah-istilah filsafat dan mantiq dalam khazanah keilmuan Islam: “ Sesungguhnya ini ( mantiq) merupakan suatu bentuk pengingkaran yang buruk dan model baru dari kebodohan. Dan pada dasarnya hukum syari’at tidak membutuhkan mantiq, apa yang disangka pakar mantiq tentang mantiq sebagai penentu dan burhan hanyalah gelembung-gelembung yang diberikan Allah SWT. kepada setiap jiwa yang sehat, lebih-lebih dalam penggunaannya sebagai teori ilmu-ilmu syari’at. Karena ilmu syari’at telah sempurna dan para ulama sudah mendalami kebenarannya dengan sedetail-detailnya sehingga tidak dibutuhkan lagi ilmu mantiq ataupun filsafat beserta para filosofnya. Dan barang siapa yang menganggap bahwa ia mendalami mantiq dan filsafat dengan harapan mendapatkan manfaat dari keduanya, maka sesungguhnya ia telah tertipu oleh syetan.”
Ibn Taimiyyah juga menyerang mantiq dari segi ketidakmanfaatan ilmu ini, ia mengungkapkan bahwa tidak ada gunanya bagi seseorang mempelajari ilmu ini, baik itu secara keilmuan maupun teori, dengan dalih tidak ditemukannya satupun dari penduduk bumi yang berhasil menciptakan suatu ilmu dan menjadi pemuka didalamnya dengan berbekal ilmu mantiq, baik ilmu agama maupun lainnya. Dokter, Arsitek, Penulis, Ahli Statistik dan lainnya menurutnya mendalami keilmuannya dan mengeluarkan produknya tanpa pertolongan mantiq, sebelum mantiq datang pun para ulama Islam telah berhasil menyusun ilmu-ilmu nahwu, arudh, dan fiqh beserta ushulnya.
Tidak cukup dengan ini, Ibn Taimiyyah meneruskan serangannya pada ide dasar keilmuan ini yang bersumber pada pembagian ilmu menjadi tashawwur(visualisasi) dan tashdiq(legalisasi) dimana jalan untuk mendapatkan tashawwur adalah dengan had (definisi) dan jalan untuk mendapatkan tashdiq adalah dengan qiyas(analogi), juga tentang kalam yang terbagi menjadi empat tingkatan: dua tingkatan salbiah (negatif) dan dua tingkatan mujabah (positif), semua pembagian ini dianggap Ibn Taimiyyah sebagai suatu betuk kebohongan dan kebodohan baik dalam penafian maupun penetapannya, maka selanjutnya ia mengingkari segala kebenaran yang diperoleh dengan sylogisme mantiq dan analogi mantiq.

Kesimpulan Dan Penutup
Dari berbagai uraian diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa watak dan ungkapan seseorang merupakan cerminan dari situasi politik dan sosio-kultural suatu masa, dimana semakin tinggi tingkat pressing suatu zaman terhadap apa yang dipangkunya, maka semakin kuat pula daya balik yang diakibatkannya, kondisi "masyarakat terpaksa" yang serba panik dicekam oleh ketakutan perang dan dibumbui oleh perpecahan intern sudah sewajarnya berdampak pada kejiwaan kumpulan masyarakat ini. Apalagi ditambah ruwetnya pertentangan antar pemikiran dan masuknya ilmu-ilmu dari peradaban lain. Maka yang agaknya menjadi fokus pertanyaan kita adalah:
"Tepatkah ungkapan-ungkapan atau fatwa-fatwa yang tumbuh dalam kondisi politik dan sosio-kultural semacam ini untuk diterapkan dalam kondisi yang menjadi latar belakang kita saat ini?". Sebuah pertanyaan dari penulis yang semoga bisa mengantarkan kita untuk terus mencari dan memahami berbagai kejadian histories, untuk kemudian kita bisa mengambil manfaat dari apa yang kita pahami, khususnya dari sosok Ibn Taimiyyah yang kita bahas saat ini. Akhirnya beribu ungkapan terimakasih saya persembahkan untuk Ayah dan Bunda yang selalu dan senantiasa mando'akan anaknya ini, dan tak lupa ungkapan rasa salut kepada segenap rekan-rekan Fismaba selalu berusaha untuk menambah wawasannya, permohonan maaf dari saya apabila dalam tulisan ini masih terdapat banyak kesalahan. Allah…terimakasih atas segala karunia-Mu, karena semuanya adalah milik-Mu, dari-Mu lah kami bisa memahami dan mengambil manfaat dalam segalanya