Selasa, 04 Desember 2012


PERAN PENDIDIKAN DALAM MELESTARIKAN BUDAYA :
Mencari Titik Temu Antara Aspek Pendidikan, Pelestarian Budaya Dalam Menghadapi Era Global
Pendahuluan
Arus globalisasi yang seiring dengan perkembangan teknologi, mengubah wajah dunia hari ini. Sehingga, bukan hanya jarak yang terasa dekat, tapi juga sekat-sekat antar kebudayaan dan peradaban semakin tipis.
Dari perkembangan tersebut, interaksi antar kebudayaan semakin intensif. Namun persoalannya, terjadi hegemoni terhadap satu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya. Dengan demikian, terjadi pengikisan terhadap budaya tradisional (folk culture). Parahnya, masyarakat kita mengalami Culture Shock dimana terjadi kekacauan budaya dari konfrontasi antar budaya. Menurut Samuel P. Huntington dalam bukunya Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (2005:103) mengatakan : 
Ekspansi Barat mampu menawarkan modernisasi dan westernisasi bagi masyarakat-masyarakat non-barat. Tokoh-tokoh politik dan intelektual dari masyarakat tersebut memberikan reaksi terhadap pengaruh barat satu atau lebih cara : menolak modernisasi dan westernisasi, menerima modernisasi dan westernisasi, menerima yang pertama menolak yang kedua 
Modernisasi sebagai anak kandung reinasans di Eropa, bukan hanya menawarkan mekanisasi produksi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Akan tetapi membawa paradigma mekanistik dalam memandang manusia. Sehingga mengantarkan manusia pada jurang dehumanisasi, dimana akar spiritual dicerabut pada kemanusiaan.

Sementara disisi lain, berdasar logika oposisi biner modern-tradisional, maju-terkebelakang, barat-timur, rasional-irasional dan dikotomi lainnya, budaya barat memposisikan non barat sebagai terkebelakang dan mesti dimodernisasi. Dari pintu inilah, westernisasi membonceng di modernisasi.
Sehubungan dengan dehumanisasi yang diakibatkan oleh modernisasi dan westernisasi, Maurice Borrmans dalam sumbangan tulisannya pada buku Dialektika Peradaban (2002:108) berkomentar :
Dengan penyalahgunaan rasionalisme dan sekularismenya, Barat cenderung melakukan perbaikan kondisi kemanusiaan, kosong dari ajaran spiritual. Manusia dikorban di altar laba. 
Sehubungan dengan hal ini, kita dapat menarik pendapat sementara bahwa, kebudayaan yang tidak berakar pada konsepsi makro kosmos dan keseimbangan semesta maka akan mengalami dehumanisasi dan mengantarkan manusia pada jurang kehancuran. Dalam buku Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya (2003:137), Alo Liliweri mengatakan :
...setiap kebudayaan harus memiliki nilai-nilai dasar yang merupakan pandangan hidup dan sistem kepercayaan dimana semua pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi...
Melihat kebudayaan Bugis, khususnya Bone, maka kita akan menemukan nilai-nilai luhur yang begitu tinggi. Akan tetapi disisi lain, kita juga akan menemukan beberapa hal yang sudah tidak relevan lagi. Menjadi pertanyaan bagi kita semua hari ini adalah, bagaimana melakukan pemilahan terhadap kebudayaan kita sehingga hal-hal yang tidak relevan, ditinggalkan dan hal-hal yang masih relevan tetap dipertahankan. Pertanyaan ini juga berlaku untuk kebudayaan asing yang juga harus dipilah. Sehingga kebudayaan asing yang relevan, dapat kita serap dan kebudayaan asing yang tidak relevan dapat kita tolak.

Dalam Lontara’na Marioriwawo dari Pattoriolong Hingga Pangaderreng (2003:7), M. Rafiuddin menegaskan :
...Sangatlah disayangkan bila nilai-nilai budaya kita yang begitu tinggi harus hilang begitu saja, oleh kita sendiri, hanya karena kurangnya kepedulian masyarakat untuk mempelajari dan memahami secara benar sesuai apa yang diwariskan leluhur kita...”
Dapat kita bayangkan bagaimana generasi bugis Bone beberapa puluh tahun kemudian, jika hari ini tidak kita mulai revitalisasi terhadap kebudayaan Bugis Bone. Misalnya, naskah lontara, pappaseng dan sebagainya akan dilupakan. Sehingga generasi penerus kita akan kehilangan identitas dan orang asinglah yang akan meletakkan identitas itu pada generasi kita.
Sekaitan dengan identitas masyarakat dengan sejarah, A.S. Kambie dalam Akar Kenabian Sawerigading (2003:35), mencoba menggunakan pisau analisis Nietszche tentang sejarah 
...lewat sejarah artikularian, orang dapat menemukan kesinambungan hidupnya masa kini dengan kehidupan para pendahulunya.....dengan demikian sejarah artikularian ini mempunyai fungsi untuk menciptakan identitas, kemana masa depan harus diarahkan.,
Jika dikaitkan dengan pendidikan, menjadi penting nilai-nilai luhur kebudayaan ditransformasikan kepada generasi muda melalui jalur formal. Menurut Prof Mattulada dalam Latoa (1995:456) :
Manusia menjadi penentu atas hidup kebudayaannya
Berdasar hal demikian, menjadi penting adanya usaha revitalisasi kebudayaan Bugis melalui jalur pendidikan formal selain usaha-usaha lainnya. Jika bukan manusia Bugis sendiri yang menjaga warisannya, maka tidak ada lagi nilai-nilai luhur yang menjadi identitas dan kepribadian. 

Kerangka Kebangsaan
Jika kita perhadapkan kebudayaan Bugis dengan semangat kebangsaan kita, dapat kita katakan bahwa ke-bhineka-an itu kurang diapresiasi. Malah yang diutamakan adalah semangat ke-tunggal ika-an. Ini tercermin pada penyeragaman pola pikir pada zaman Orde Baru. Sehubungan dengan hal ini, Irwan Abdullah (2006:66) menulis :
Sudah menjadi rahasia umum bahwa etnis mayoritas mendapatkan privilese – privelese dalam berbagai bentuk, sementara etnis yang tidak memiliki back up mengalami marginalisasi.
Disinilah letak kekeliruan yang dilakukan rezim Orde Baru dalam rangka membangun kepribadian dan kebudayaan bangsa melalui berbagai jalur, termasuk penataran P4. Sementara pada aspek bahasa, pemberlakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, walau satu sisi telah memudahkan komunikasi antar anak bangsa, ternyata disisi lain justru menjadikan sekitar 500-an bahasa daerah dinusantara termarjinalisasi. 
Parahnya, media justru memunculkan bahasa Indonesia yang tidak baku dialek Jakarta sebagai standarisasi bahasa gaul anak muda. Akibatnya, generasi muda kurang mengenal bahasa daerahnya. Konsekwensinya adalah bahasa daerah terancam punah. Sejalan dengan pendapat Andi Amriadi Ali (1999:13) bahwa :
“...mereka sudah lupa, malu dan kurang menghargai bahasa daerah. Padahal nilai-nilai budaya yang bagus dan mampu disumbangkan pada bangsa ini untuk menjadi ramuan bagi kebudayaan Indonesia yang akan datang. Jangan sampai dilupakan sebaga itu harus diwariskan...”
Dari aspek bahasa saja, kita telah mendapat sinyal untuk segera bereaksi terhadap fenomena ini. Bagaimana jika kita tinjau aspek lain dari kebudayaan. Maka hal ini, menjadi niscaya bagi kita saat ini untuk merevitalisasi kebudayaan kita dengan berdasar konsepsi kesejarahan dan konteks kekinian agar generasi muda Bone tidak kehilangan identitas dan mampu duduk sejajar dalam kerangka kebangsaan. Serta, menjadi warga dunia yang siap dengan perkembangan zaman tapi memiliki semangat sebagai Bugis Bone dalam kerangka multikulturalisme dan demokrasi.
Namun persoalan besar bagi kita semua adalah bagaimana membangun keseimbangan antara indentitas kedaerahan dan kebugisan sehingga tidak menciptakan arogansi kedaerahan atau kesukuan yang justru dapat menjadi pemicu konflik. Tapi disisi lain, bukan atas dasar nasionalisme yang kaku sehingga Budaya Bugis khususnya Bone justru terlupakan. Padahal kebudayaan Indonesia tersusun dari ratusan suku dan budaya termasuk Bugis khususnya Bone. 
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, tentu harus mengembangkan metode yang tepat dan melibatkan segenap pihak yang terkait dan bergerak secara sinergis. Dengan adanya keterbukaan di era reformasi ini, membuka peluang bagi kita semua untuk mengangkat kembali “harta karun” manusia Bugis yang terpendam dalam naskah klasik yang terlalu disakralkan sehingga tak terbaca, untuk muncul kepermukaan agar dapat ditransformasikan pada generasi selanjutnya.

Sekelumit tentang Sejarah dan Budaya
Membahas tentang sejarah dan kebudayaan mestilah secara terpisah kemudian dipadukan. Sebab pembauran secara serampangan akan menyebabkan kita sulit untuk memahami sejarah dan budaya itu sendiri
Sejarah dalam persepsi Muththari terbagi tiga. Yaitu sejarah tradisional yang membahas tentang artefak dan bukti bukti kesejarahan. Kedua, sejarah ilmiah yaitu membahas tentang hubungan aksiden kesejarahan dimasa lalu dengan kondisi kekinian. Ketiga yaitu Filsafat sejarah, yaitu membahas tentang hal-hal yang mempengaruhi gerak sejarah itu sendiri.
Terkadang ada diantara kita (tapi tidak semua) yang terjebak pada sejarah tradisional. Padahal, artefak maupun aksiden dimasa lalu adalah hal yang sudah berlalu. Semestinya, menjadi bahan analisis kita dalam melihat wajah zaman hari ini dan bahan analisis dalam memprediksikan kondisi masa depan. 
Jika kita menarik sejarah untuk konteks lokal, biasanya sejarah lokal kita terdiri dari beberapa versi. Kalaupun ada kesamaan data sejarah, tapi peluang untuk berbeda interpretasi juga terbuka luas. 
Perbedaan pendapat juga muncul karena sejarah lokal sebelum fase kolonial tidak mencatat tahun. Sehingga untuk menghitung mundur, diratakan 25 (Prof A. Zainal) atau 30 (Ian Caldwell) jumlah generasi sebelumnya. 
Seperti sejarah terbentuknya Kerajaan Bone, terjadi perbedaan persepsi tentang siapa raja bone pertama. Atau misalnya masa transisi dari Arumpone ke-13 La Maddaremmeng ke Arumpone 15 (17?) La Tenritatta Arung Palakka.
Sedangkan data sejarah yang sama tapi interpretasi berbeda ; misalnya posisi La Tenritatta Daeng Serang Petta MalampeE Gemme’na Arung Palakka, diinterpretasi sebagai pahlawan dan dilain sisi diinterpretasi sebagai pengkhianat .
Hal yang menarik adalah epos I La Galigo. Dalam Manusia Bugis, Pelras menulis (2006:54) : 
Kebanyakan ilmuwan barat dewasa ini memandang seluruh siklus Lagaligo sebagai mitos belaka. Mereka menafikan kemungkinan untuk memanfaatkan teks itu sebagai sumber informasi yang layak.......oleh karena itu saya berpendapat bahwa tidak adanya sumber-sumber lain yang dapat diandalkan seyogyanya justru membuat Lagaligo tidak (dapat) diabaikan. Walaupun pemanfaatan teks itu memerlukan kecermatan yang tinggi.
Perdebatan Pelras dengan ilmuwan barat lainnya adalah kemungkinan diterimanya naskah Lagaligo sebagai data kesejarahan, meski Pelras tetap menggaris bahwa adanya kecermatan. Dari hal diatas, dapat dipahami adanya perbedaan yang disebabkan oleh kerangka metodologis (Prof. A. Zainal dengan Ian Caldwell. Atau Pelras dengan Ilmuwan barat lain). Ada juga perbedaan tafsir politis 
Versi yang berbeda, mengindikasikan adanya dominasi untuk merekonstruksi sejarah. Interpretasi yang berbeda, mengindikasikan perbedaan perspektif dan usaha untuk hegemoni. Dari sini, mengungkap sejarah berarti membuat forum perdebatan. Jika tidak dikelola dengan baik, justru akan dapat menciptakan potensi konflik dilevel grass root. Kita bisa bayangkan, bagaimana sekiranya masyarakat fanatik buta terhadap satu versi atau penafsiran sementara masyarakat lain justru berbeda. Maka, bukannya kita menjaga aset sejarah dan menjadikannya bahan analisis dan spirit, malah kita justru merusak stabilitas masyarakat. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. 
Aksiden sejarah 300-an tahun yang lalu, dapat menciptakan konflik hari ini. Apalagi sejarah 50-60 an tahun yang lalu yang masih segar diingatan orang tua kita . Karena ada luka lama yang justru akan parah jika mengangkat dipermukaan secara gegabah. Menokohkan pelaku sejarah secara berlebihan dapat saja memunculkan fanatisme buta sehingga tercipta arogansi sejarah. Melecehkan pelaku sejarah, dapat saja memunculkan ketersinggungan Sampai di tahap ini, semua pihak yang berkaitan mestinya arif dalam melihat sejarah. Sehingga tidak ada lagi yang arogan dan tidak ada lagi yang tersinggung. Dengan demikian ketokohan pelaku sejarah menjadi spirit bagi generasi hari ini untuk membangun zamannya.

gh

Kebudayaan lahir dari pengetahuan logika (benar-salah), etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek) suatu kelompok manusia yang kemudian dibiasakan dari generasi ke generasi. Tiap suku, kaum atau komunitas, membangun kebudayaannya masing-masing selama beberapa generasi. Lebih lanjut, Prof Dr. Irwan Abdullah dalam bukunya Konstruksi dan Reproduksi kebudayaan (2006:51) menegaskan :
Kebudayaan bagi suatu masyarakat bukan sekedar sebagai frame of reference yang menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai praktik sosial, tetapi lebih sebagai “barang” atau materi yang berguna dalam proses identifikasi diri dan kelompok. Sebagai kerangka acuan kebudayaan telah merupakan serangkaian nilai yang disepakati dan yang mengatur bagaimana sesuatu yang bersifat ideal diwujudkan. 
Kebudayaan ini berkembang sebagai hasil interaksi manusia dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan dengan penciptanya (perkecualian untuk budaya materialisme barat yang tidak berurusan dengan Tuhan)
Budaya Bugis berakar dari konsep ketuhanannya, yaitu Dewata SeuwaE yang kemudian diturunkan pada konsepsi kosmologi semesta yang terdiri dari tiga alam botinglangi, ale kawa, buri’ liu. Dari sini kemudian masuk pada falsafah sulapa eppa . Kemudian masuk pada nilai-nilai, norma atau sering disebut pangadereng). Lebih lanjut lagi, maka kita akan sampai pada kesenian dan kebudayaan material.
Setelah Islamisasi pada abad 17, terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan ajaran Islam. Islam terdiri dari berbagai ragam penafsiran penganutnya, sehingga penafsiran terhadap Islam ini mempengaruhi pendapat seseorang terhadap akulturasi ini. Sehingga muncul penyikapan yang berbeda, mulai yang paling ekstrim, misalnya Operasi Toba yang dilancarkan DI/TII yang berpengaruh terhadap eksistensi Bissu, atau paling kooperatif terhadap tatanan klasik, yaitu mengakui kepercayaan pra Islam. Hal ini adalah hal yang sangat sensitif, dan mesti semua pihak arif dalam bersikap. 
gh

Manusia Bugis, selain memiliki tradisi lisan juga memiliki tradisi tulis.Adanya aksara lontara menjadi bukti bahwa manusia Bugis memiliki kebesaran. Karena tidak semua suku atau kebudayaan memiliki aksara tersendiri. Karya tulis manusia Bugis dahulu bukan hanya berkaitan dengan silsilah, tapi juga kronologi, astronomi/ramalan, naskah pertanian dan sebagainya. Bahkan, kita memiliki epos terbesar didunia sebagai warisan kita. 
Sangat disayangkan jika anak-anak kita lebih mengenal tokoh kartun seperti Naruto, Batman dan sebagainya ketimbang mengenal kisah Meong Palo KarellaE. Bahkan banyak anak-anak kita yang kurang mengenal keluarga dan sahabat Nabinya dan lebih mengenal penyanyi dangdut atau artis Sinetron dan peserta Indonesia Mencari Bakat.
Sementara budaya bugis tengah terkikis oleh budaya asing, minat untuk melestarikan budaya generasi muda sangat kurang. Budaya Bugis diambang kehancuran, jika semua pihak tidak segera bersama-sama bekerja sesuai porsi masing-masing untuk menjaga aset budaya.
Banyak nilai-nilai kebudayaan Bugis yang relevan untuk ditransformasikan untuk generasi muda. Sebagai contoh, konsepsi siri’ na pesse atau konsepsi kepemimpinan sangat relevan untuk kembali dihidupkan. Konsep dalam berinteraksi (sipakatau, sipalebbi, sipakainge) yang melahirkan konsep (mappasitinaja) juga masih relevan. Pertanyaan terbesar kita hari ini adalah bagimana mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan sehingga lahir generasi manusia bugis Bone yang tanggap terhadap perkembangan zaman tapi tidak kehilangan identitas dan nilai kebugisannya ?.

Pentingnya Pembangunan Sektor Pendidikan
Pendidikan untuk memanusiakan manusia secara filosofis dan mencerdaskan kehidupan bangsa secara normatif. Sebagai sebuah proses, tentu tidak dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa. Berhasil tidaknya proses pendidikan akan mempengaruhi martabat bangsa dimata bangsa lainnya.

Sebelum reformasi, pendidikan kita adalah proses penyeragaman cara berpikir. Misalnya dalam pendidikan bahasa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke memulai dengan ini budi. Padahal ada banyak tokoh lain yang bisa diangkat. Misalnya Ini Ucok, Ini Baco, Ini Ujang, Ini Denias dan sebagainya.
Pelajaran bahasa dan sastra pun itu-itu saja. Seolah-olah tidak ada sastra dari kebudayaan lain. Padahal, Indonesia ini dibentuk 500-an suku yang memiliki tradisi sastra tersendiri. 
Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan selalu menggunakan peristilahan yang berbahasa sangsekerta. Padahal, bahasa sangsekerta murninya dari India, bukan bahasa asli Indonesia. Kalaupun ada bahasa yang berasal dari salah satu suku di Indonesia, kita tidak akan menemukan kata siri na pesse’, pela gandong dan kearifan lainnya. Seolah-olah nilai dasar kebangsaan kita dibentuk dari kearifan satu suku saja.
Dalam pelajaran sejarah, petikan tentang sejarah Sulawesi hanya sekilas mengulas perang Makassar yang menokohkan peran protagonis kepada Sultan Hasanuddin dan peran antagonis kepada Arung Palakka. Sementara, kita harus menghapal raja-raja Singasari, Majapahit, Demak, Mataram dan sebagainya. Bahkan, pelajaran sejarah hanya mengulas pergerakan kemerdekaan di Jawa seolah-olah tidak ada orang luar Jawa yang berperang disana. Dan parahnya, sejarah pasca kemerdekaan adalah sejarah pemberontakan rakyat Aceh (DI-TII Daud Berueh), Sunda (DI-TII Kartosuwiryo), Banjar (DI-TII Ibnu Hajar), Sulawesi Selatan (DI-TII Kahar Muzakkar, Kapten Andi Azis), Sulawesi Utara (PRRI-Permesta), Ambon (RMS). Hanya PKI saja di Jakarta. Coba kita bandingkan peristiwa 10 November di Surabaya yang menjadi peringatan hari Pahlawan. Atau Serangan Oemoem 1 Maret di Jogja. R. A. Kartini, seorang bangsawan jepara, hanya mengirim surat kepada Belanda, malah dianggap pahlawan nasional dan hari lahirnya dijadikan hari perempuan Indonesia. Ini sungguh tidak sebanding dengan keringat dan darah Cut Nya Dien atau Laksamana Malahayati yang sekedar dianggap pahlawan biasa
Belum lagi klaim bahwa Nusantara pernah bersatu dibawah Sriwijaya dan Majapahit. Padahal sepanjang pengetahuan penulis, ini adalah klaim sepihak yang kebenaran sejarahnya belum dikonfirmasi pada daerah yang konon ditaklukkan Gajah Mada. Hal ini menjadi sebuah tanda akan superioritas satu suku terhadap suku lain.
Dalam kerangka kebangsaan kita, semua suku harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Semua bahasa dan kearifan lokal harus dihargai, demi membangun generasi bangsa yang menghargai perbedaan dan tidak kehilangan jati diri. Bukan menonjolkan sumpah-sumpahan yang tidak lebih berakar dari hasrat invasi (imperialisme tradisional) belaka.

gh

Kita bersyukur, tumbangnya rezim Orde Baru 1998 membawa berkah di sektor pendidikan. Materi dan metode pengajaran untuk anak didik lebih cerdas. Bahkan, dengan adanya Kurikulum Muatan Lokal, peluang anak bangsa yang jauh dari pusat kekuasaan, dapat mengelola sendiri bahan pengajarannya. Sehingga menjadi peluang untuk proses transformasi nilai-nilai kebudayaan dan kesejarahan khususnya Bone.
Revitalisasi kebudayaan dan kesejarahan tentu kita tidak bebankan hanya pada sektor pendidikan formal dengan penjenjangannya (Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi) semata. Tapi juga pendidikan Informal dan Non Formal.
Disinilah pentingnya agar semua pihak dapat bekerja sama dan bersinergi untuk merevitalisasi kebudayaan dan kesejarahan. Di lain sisi pihak pengambil kebijakan sehubungan dengan pendidikan dapat mentransformasikan nilai-nilai tersebut melalui pendidikan formal. 
Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan nantinya harus menyelaraskan materinya dengan perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik kepada peserta didik dengan tetap memperhatikan aturan-aturan yang ada 
Pengembangan materi Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan tetap mesti mengacu pada prinsip pengembangan silabus, seperti yang dipaparkan Bambang Suhendro dkk dalam bukunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, seperti Ilmiah, Relevan, Sistematis, Konsisten, Memadai, Aktual dan Kontekstual, Fleksibel dan Menyeluruh.
Agar lebih efektif, selayaknya pendidikan diarahkan pada perkembangan kecerdasan spiritual. Sehingga nilai-nilai kebudayaan tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif bagi peserta didik. Jalaluddin Rahmat (2007:33-34) menulis:
Pendidikan harus meletakkan anak didik pada proses dialektik sejarah yang panjang. Ia harus dapat mengantarkan anak melalui berbagai tingkat kesadaran. Tidak boleh ada satu tahap kesadaran yang dinafikan. Salah satu diantara tahap kesadaran – yang selama ini justru dikesampingkan dalam sistem pendidikan kita – adalah kesadaran mistik, kesadaran akan sesuatu yang bersifat ruhaniah 
Untuk menyelaraskan antara sisi kesejarahan dan kebudayaan Bugis Bone dengan pembangunan generasi muda Bone sektor pendidikan pada aspek intelektual yang berkaitan dengan spiritual, adalah hal yang tidak mudah. Perlu kerja keras berbagai pihak yang ada untuk bekerjasama dan mulai berbuat untuk masa depan Kabupaten Bone.
Dengan demikian, upaya ini tidak hanya sekedar romantisme semu akan besarnya sejarah dan budaya yang tak lama lagi hilang ditelan arus budaya konsumerisme. Akan tetapi transformasi nilai dan penerapannya menjadi proses pembentukan manusia Bugis Bone yang siap menghadapi era global tanpa harus kehilangan identitas .

Tawaran Metode 
Agar revitalisasi kebudayaan dan kesejarahan dapat bersinergi dengan sektor pendidikan maka perlu dibuat metode. Adapun tawaran kami sebagai berikut

a. Pembentukan Tim
Tim dibentuk dari berbagai pihak antara lain, pihak pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda Olahraga Seni dan Budaya, Sekolah dan Komite Sekolah yang terkait. Kemudian pihak tokoh adat dan tokoh masyarakat Bone, serta pihak Lembaga Kebudayaan dan LSM. Pembentukan tim ini kemudian ditindak lanjuti dengan pembagian job description, penetapan skedul dan sebagainya
b. Riset
Dari skedul dan pembagian job description yang ditetapkan sebelumnya, tim melakukan pengumpulan data dan menganalisis data. Pada tahap ini, dilakukan penelitian akurasi (validitas) data dan efek-efek yang mungkin ditimbulkan. Diusahakan agar ada transformasi nilai dari data tersebut sesuai dengan kepentingan pendidikan.
c. Penyusunan Bahan
Setelah melewati proses seleksi bahan ajar (berdasar muatannya kepada tingkat pendidikan peserta didik) maka disusun silabus dan buku sebagai acuan berikut tujuan instruksional dari tiap materi pengajaran. Dan yang tak kalah penting adalah penyesuaian materi dan metode dengan standar pendidikan yang berlaku.
d. Sosialisasi dan Penerapan
Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bone bekerja sama dengan pihak Sekolah menetapkan Mata Pelajaran “Sejarah dan Kebudayaan Bugis Bone” dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dan melakukan pelatihan kepada guru dan dosen. Pelatihan ini dimaksudkan agar tenaga pengajar lebih mampu menguasai materi dan mentransformasikan pada peserta didiknya.

Penutup
Adalah penting bagi semua pihak untuk bersama-sama menyelamatkan kebudayaan kita serta menjadikan warisan sejarah sebagai spirit ditengah pertarungan di era global saat ini. Selain penyelamatan aset sejarah dan budaya, perlu juga diadakan transformasi dan sosialisasi nilai melalui berbagai jalur pendidikan dalam rangka pembentukan generasi muda yang siap menghadapi era global tanpa mesti kehilangan identitas sebagai manusia bugis Bone 
Pendidikan, sebagai hal yang sangat penting dalam proses pembentukan jati diri selayaknya memainkan peran aktif dalam proses ini. Pada jalur pendidikan formal, menggagas pelajaran pendidikan sejarah dan budaya Bugis Bone sebagai kurikulum muatan lokal adalah hal yang layak untuk dipertimbangkan. Pada jalur pendidikan informal, semestinya tiap keluarga menjaga anggotanya dari tayangan yang tidak mendidik (tayangan sampah) seperti infotainment, sinetron dan sebagainya. Dan menggencarkan pesan-pesan moral pada generasi muda. Pada jalur non formal, hendaknya ada media yang senantiasa mengangkat sejarah dan budaya Bugis Bone kepermukaan, sehingga tidak tenggelam oleh pergeseran zaman.
Kita tidak dapat berharap kepada suku bangsa lain untuk menjaga warisan leluhur kita yang begitu tinggi. Karena hanya pewaris saja yang dapat menjaga dan melestarikan warisannya. Kita tidak dapat menunda lebih lama. Karena aset-aset sejarah semakin hari semakin rusak dan tokoh budaya mesti diregenerasi sesuai hukum alam. Kita tidak dapat tinggal diam melihat generasi muda yang kehilangan identitas dan jati diri. Kita harus berbuat seefektif dan seefisien mungkin dalam waktu singkat. Sebelum kerusakan yang lebih parah melanda aset sejarah dan budaya serta generasi muda kita.
Semoga ikhtiar kita dari berbagai pihak, dari Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan, Tenaga Pengajar, Tokoh Adat dan Masyarakat, LSM, Pers, Mahasiswa, Lembaga Kebudayaan, dan sebagainya, dapat bersinergi untuk masa depan masyarakat Bone yang lebih baik dan diberkahi oleh Allah SWT. Wallahu A’lam Bishshowab.

Minggu, 25 November 2012

                          TUGAS KULIAH BAHASA ARAB



BAHASA ARAB

 

stkip













Makalah
Disusun dan diajukan sebagai tugas terstruktur
Mata Kuliah    :    Bahasa Arab 1
Pengampu        :    Isro, M.Ag

     Di susun Oleh :
Nama   : Muhamad Ja’far Sidiq
NIM     : 40212098
Prodi    : PGSD


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ISLAM BUMIAYU
TAHUN 2012/2013
DAFTAR ISI

Cover ------------------------------------------------------------------------------- 1
Daftar Isi  ---------------------------------------------------------------------------- 2
Bab I  Pendahuluan ----------------------------------------------------------------- 3
            A. Latar Belakang  ---------------------------------------------------------- 3
            B. Tujuan Pembahasan  ----------------------------------------------------- 3
            C. Lingkup Pembahsan  ---------------------------------------------------- 3
Bab II  Pembahasan  ----------------------------------------------------------------- 4
            Pengelompokan bahasa Arab  ----------------------------------------------- 4
A.     Bahasa Arab Klasik------------------------------------------------------ 5
B.     Bahasa Arab Standart Modern------------------------------------------- 6
C.     Bahasa Arab Dialek ( Ammiyah )---------------------------------------- 7
Bab III      Kesimpulan dan Saran --------------------------------------------------- 8
A.    Kesimpulan -------------------------------------------------------------- 8
B.     Saran --------------------------------------------------------------------- 8

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

B.      Tujuan Pembahasan

a.      Dapat mengetahui tentang tingkatan bahasa Arab.
b.      Beberapa perbedaan dialek di negara Timur Tengah.
c.       Penggunaan bahasa Arab.

C.      Lingkup  Pembahasan

Ruang lingkup pembahasan makalah ini meliputi tata cara penggunaan bahasa Arab diberbagai Negara dan penggunaan bahasa Arab di lingkup yang lebih kecil.







BAB II
PEMBAHASAN

Dewasa ini bahasa arab dibagi atas tiga kelompok yaitu bahasa arab klasik, bahasa  arab standard dan bahasa dialek/ammiyah. Namun adapula linguis arab yang membagi bahasa arab ke dalam bahasa arab fusha, yang mencakup fusha klasik, fusha standard dan fusha ammiyah.
Persamaan bahasa arab fusha klasik dan standar adalah keduanya memiliki sistem aksara yang sama dan tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh kalangan awam. Adapun perbedaannya adalah bahwa bahasa arab klasik dipakai dalam karya-karya budaya arab seperti kesustrasastraan, filsafat, kedokteran dan sebagainya. dalam bahasa itu al quran diturunkan. Semua buku agama yang ditulis para  ulama mengginakan bahasa arab klasik. Sedangkan bahasa arab standar selalu dipakai dalam acara-acara resmi, dalam media massa, dalam sekolah-sekolah, seminar dan sebagainya. Bahasa arab standar fusha adalah bahasa yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan modern karena banyak mengambil kata-kata baru dari peradaban Barat.
Bahasa arab ammiyah dikenal dengan istilah dialek yang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dan sifatnya tidak formal seperti di rumah, pasar dan sebagainya. Perbedaanya dengan bahasa arab standar adalah terletaqk pada kosaa kata yang sangat diwarnai dengan sifat lokal seperti dialek kairo, dialek Saudi dan dialek palestina dan sebagainya.




A.    Bahasa Arab Klasik
Bahasa Arab klasik dikenal dengan bahasa Al Qur’an dan bahasa kitab-kitab klasik. Bahasa arab klasik ialah bahasa Al Qur´an dan bahasa yang dipakai oleh tokoh-tokoh pujangga dan penyair, seperti Al Mutanabbi, Ibnu Khaldun, dsb.  Varietas ini sama dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat di zaman Rasulullah.
Bahasa Arab klasik telah dipergunakan di jazirah Arabia untuk kurun waktu sedikitnya 2000 tahun. Bahasa Arab Klasik adalah bahasa formal yang dipergunakan di kawasan Hejaz sekitar 1500 tahun yang lalu. Catatan tertulis yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab klasik sampai saat ini masih terdapat, termasuk di dalamnya syair-syair Arab yang amat terkenal pada masa pra islam (600 AD). Al Quran pun diturunkan dalam bahasa Arab klasik tersebut, hal yang menjadi alasan utama mengapa bahasa ini dapat menjaga keasliannya sepanjang abad .Bangsa Arab menyadari betul bahwa bahasa Arab klasik ini merupakan bagian penting dari kebudayaan mereka. Sepanjang sejarah Islam bahasa Arab Klasik ini merupakan bahasa resmi negara, yang dipergunakan di dunia peradilan tinggi, birokrasi dan pendidikan. Kesusasteraan Arab pun tertuang sebagian besar dalam bahasa Arab klasik (fasih). Dan penguasaan bahasa Arab klasik dan penyampainnya dalam bentuk tulisan dan percakapan akan selalu mengundang penghormatan dan rasa kagum.
Bahasa Arab klasik mana telah bertahan untuk kurun waktu lebih dari 1400 tahun, dan menyebar diseluruh kawasan, begitu juga di pergunakan oleh bangsa bangsa yang berbeda.  Berikut beberapa alasan bahasa Arab mampu menjaga eksistensinya.
1.      Keberadaan Kitab suci Al Quran sebagai model tertulis daripada Arab klasik. Dimana Al-Quran selalu di baca, di perdengarkan, dianalisa dan dipelajari setiap saat oleh ummat islam diseluruh dunia sepanjang abad.
2.      Kekokohan daripada kaidah kaidah bahasa yang ada dalam Arab klasik, disamping selalu adanya usaha usaha untuk mempelajari dan menguasai dengan baik kaidah kaidah tersebut, merupakan salah satu faktor daripada kelestarian bahasa Arab klasik tersebut sampai saat ini.
B.     Bahasa Arab Standard Modern (MSA)
Bahasa Arab Standard Modern (MSA), sebagaimana namanya menunjukkan bahasa ini merupakan counterpart yang setara dengan bahasa klasik Arab tersebut diatas, dan merupakan bahasa resmi dari 22 negara Arab, baik untuk percakapan maupun tulisan. Perbedaan yang utama antara MSA dan Arab klasikal hanya terletak pada perkembangan perbendaharaan kata, dimana dalam bahas Arab modern perbendaharaan kata mengiringi perkembangan jaman, sedang pada klasik Arab mengacu pada adat kebiasaan lama. Setiap orang Arab yang melakukan komunikasi dengan orang Arab dari daerah lain selalu menggunakan bahasa ini. Orang-orang terpelajar pun selalu lebih banyak memakainya.Bahasa Arab Standard Modern yang sangat luas digunakan ini mencakup istilah berbagai variasi bahasa Arab, baik berbentuk ucapan maupun tulisan seperti dalam dunia pendidikan, media massa (termasuk surat kabar, radio, televisi dan internet), kuliah umum, pengumuman dan periklanan. Jadi bahasa Arab standar moderen adalah bahasa Arab klasik yang dibumbui dengan elemen-elemen modern.
Bahasa Arab modern (MSA) , telah mendapatkan status yang amat tinggi bagi bangsa Arab, karena bahasa ini sangat mirip dengan bahasa Arab klasik tersebut diatas. Dan oleh sebab itu penggunaan bahasa ini merupakan ciri ketinggian budaya dan pendidikan. Kemahiran bertutur kata dalam bahasa Arab modern (MSA) ini merupakan ciri kecendekiawanan seseorang. dan yang terpenting adalah bahwa bahasa Arab modern ini telah menjadi satu satunya alat pemersatu bangsa bangsa Arab di dunia Arab.





C.    Bahasa Arab Dialek (Ammiyah)
Varietas bahasa Arab ini adalah bahasa dialek daerah setempat. Bahasa inilah yang diperoleh setiap dalam komunitas Arab sejak masa kana-kanak, dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh setiap orang, baik terpelajSar maupun yang buta huruf.
Bahasa Arab Dialek atau "Al-'Arabiyyah Al-'Ammiyah" adalah bahasa Arab yang dipakai dalam percakapan sehari-hari di dunia Arab, dan amat berbeda dengan Bahasa Arab tulisan. Perbedaan dialek paling utama ialah antara Afrika Utara (Magribi) dan bagian Timur Tengah (Hijaz). Faktor yang menyebabkan perbedaan dialek bahasa Arab ialah pengaruh substrat (bahasa yang digunakan sebelum bahasa Arab datang). Seperti misalnya pada kata yakūn (artinya "itu"), di Irak disebut aku, di Palestina fih, dan di Magribi disebut kayən. Daftar dialek utama di Arab adalah sebagai berikut:
1.   Dialek Mesir مصري            : Dipakai oleh sekitar 76 juta rakyat Mesir.
2.   Dialek Maghribiمغربي       : Dipakai oleh sekitar 20 juta rakyat Afrika Utara.
3.   Dialek Levantine                : Disebut juga Dialek Syam. Dipakai di Syria,  Palestina, Lebanon dan Gereja Maronit Siprus.
4.   Dialek Iraq  عراقي              : Mempunyai perbedaan khusus, yaitu perbedaan dialek di utara dan selatan Iraq
5.   Dialek Arab Timur بحريني : Dipakai di Oman, di Arab Saudi dan di Irak bagian Barat.
6.   Dialek Teluk خليجي     : Dipakai di daerah Teluk, yaitu di Qatar, Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia.
Sementara beberapa dialek lainnya adalah:
1.   Hassānīya حساني                : Dipakai di Mauritania dan Sahara Barat
2.   Dialek Sudan سوداني         : Dipakai di Sudan dan Chad
3.   Dialek Hijazi حجازي            : Dipakai di daerah barat dan utara Arab Saudi dan timur Yordania
4.   Dialek Najd نجدي               : Dipakai di NajdArab Saudi
5.   Dialek Yamani يمني          : Dipakai di Yaman
6.   Dialek Andalus أندلسي      : Dipakai di Andalus sampai abad ke-17
7.   Dialek Sisilia سقلي            : Dipakai di Sisilia.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Meskipun dalam kenyataanya banyak farian dalam bahasa Arab namun dari semua itu masih terdapat pemersatu dalam komunikasi dan bersifat sangat kuat sehingga dapat mempersatukan bangsa-bangsa dibagian Timur Tengah. Selain itu juga Bahasa Arab sndiri telah diakui oleh Dunia sebagai Bahasa Internasional.
B.     Saran
Dari kesimpulan diatas, saya menyarankan agar pembelajaran bahasa Arab dapat
ditanamkan sejak dini agar anak dapat mengetahui dan lebih faham tentang Agama serta tidak kaget dengan perkembangan globalisasi yang terjadi kelak,sebab bahasa aArab sendiri telah mendunia atau telah menjadi bahasa Internasional.

TUGAS ARTIKEL 
Pengertian dari hardware atau dalam bahasa indonesia-nya disebut juga dengan nama “perangkat keras” adalah salah satu komponen dari sebuah komputer yang sifat alat nya bisa dilihat dan diraba secara langsung atau yang berbentuk nyata, yang berfungsi untuk mendukung proses komputerisasi.
prosesor
Hardware dapat bekerja berdasarkan perintah yang telah ditentukan ada padanya, atau yang juga disebut dengan dengan istilah instruction set. Dengan adanya perintah yang dapat dimengerti oleh hardware tersebut, maka hardware tersebut dapat melakukan berbagai kegiatan yang telah ditentukan oleh pemberi perintah.
Secara fisik, Komputer terdiri dari beberapa komponen yang merupakan suatu sistem. Sistem adalah komponen-komponen yang saling bekerja sama membentuk suatu kesatuan. Apabila salah satu komponen tidak berfungsi, akan mengakibatkan tidak berfungsinya proses-proses yang ada komputer dengan baik. Komponen komputer ini termasuk dalam kategori elemen perangkat keras (hardware). Berdasarkan fungsinya, perangkat keras komputer dibagi menjadi :
1. input divice (unit masukan)
2. Process device (unit Pemrosesan)
3. Output device (unit keluaran)
4. Backing Storage ( unit penyimpanan)
5. Periferal ( unit tambahan)
Komponen dasar pada komputer terdiri dari input, process, output dan storage. Input device terdiri dari keyboard dan mouse, Process device adalah microprocessor (ALU, Internal Communication, Registers dan control section), Output device terdiri dari monitor dan printer, Storage external memory terdiri dari harddisk, Floppy drive, CD ROM, Magnetic tape. Storage internal memory terdiri dari RAM dan ROM. Sedangkan komponen Periferal Device merupakan komponen tambahan atau sebagai komponen yang belum ada atau tidak ada sebelumnya. Komponen Periferal ini contohnya : TV Tuner Card, Modem, Capture Card.
1. Unit Masukan ( Input Device )
Unit ini berfungsi sebagai media untuk memasukkan data dari luar ke dalam suatu memori dan processor untuk diolah guna menghasilkan informasi yang diperlukan. Input devices atau unit masukan yang umumnya digunakan personal computer (PC) adalah keyboard dan mouse, keyboard dan mouse adalah unit yang menghubungkan user (pengguna) dengan komputer. Selain itu terdapat joystick, yang biasa digunakan untuk bermain games atau permainan dengan komputer. Kemudian scanner, untuk mengambil gambar sebagai gambar digital yang nantinya dapat dimanipulasi. Touch panel, dengan menggunakan sentuhan jari user dapat melakukan suatu proses akses file. Microphone, untuk merekam suara ke dalam komputer.
Data yang dimasukkan ke dalam sistem komputer dapat berbentuk signal input dan maintenance input. Signal input berbentuk data yang dimasukkan ke dalam sistem komputer, sedangkan maintenance input berbentuk program yang digunakan untuk mengolah data yang dimasukkan. Jadi Input device selain digunakan untuk memasukkan data dapat pula digunakan untuk memasukkan program. Berdasarkan sifatnya, peralatan input dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
• Peratalan input langsung, yaitu input yang dimasukkan langsung diproses oleh alat pemroses. Contohnya : keyboard, mouse, touch screen, light pen, digitizer graphics tablet, scanner.
• Peralatan input tidak langsung, input yang melalui media tertentu sebelum suatu input diproses oleh alat pemroses. Contohnya : punched card, disket, harddisk.
Unit masukan atau peralatan input ini terdiri dari beberapa macam peranti yaitu :
a. Keyboard
Keyboard merupakan unit input yang paling penting dalam suatu pengolahan data dengan komputer. Keyboard dapat berfungsi memasukkan huruf, angka, karakter khusus serta sebagai media bagi user (pengguna) untuk melakukan perintah-perintah lainnya yang diperlukan, seperti menyimpan file dan membuka file. Penciptaan keyboard komputer berasal dari model mesin ketik yang diciptakan dan dipatentkan oleh Christopher Latham pada tahun 1868, Dan pada tahun 1887 diproduksi dan dipasarkan oleh perusahan Remington. Keyboard yang digunakanan sekarang ini adalah jenis QWERTY, pada tahun 1973, keyboard ini diresmikan sebagai keyboard standar ISO (International Standar Organization). Jumlah tombol pada keyboard ini berjumlah 104 tuts. Keyboard sekarang yang kita kenal memiliki beberapa jenis port, yaitu port serial, ps2, usb dan wireless.
gambar-211.jpg
keyboard qwerty

Jenis-Jenis Keyboard :
1.) QWERTY
2.) DVORAK
3.) KLOCKENBERG
Keyboard yang biasanya dipakai adalah keyboard jenis QWERTY, yang bentuknya ini mirip seperti tuts pada mesin tik. Keyboard QWERTY memiliki empat bagian yaitu :
1. typewriter key
2. numeric key
3. function key
4. special function key.
b. Mouse
Mouse adalah salah unit masukan (input device). Fungsi alat ini adalah untuk perpindahan pointer atau kursor secara cepat. Selain itu, dapat sebagai perintah praktis dan cepat dibanding dengan keyboard. Mouse mulai digunakan secara maksimal sejak sistem operasi telah berbasiskan GUI (Graphical User Interface). sinyal-sinyal listrik sebagai input device mouse ini dihasilkan oleh bola kecil di dalam mouse, sesuai dengan pergeseran atau pergerakannya. Sebagian besar mouse terdiri dari tiga tombol, umumnya hanya dua tombol yang digunakan yaitu tombol kiri dan tombol kanan. Saat ini mouse dilengkapi pula dengan tombol penggulung (scroll), dimana letak tombol ini terletak ditengah. Istilah penekanan tombol kiri disebut dengan klik (Click) dimana penekanan ini akan berfungsi bila mouse berada pada objek yang ditunjuk, tetapi bila tidak berada pada objek yang ditunjuk penekanan ini akan diabaikan. Selain itu terdapat pula istilah lainnya yang disebut dengan menggeser (drag) yaitu menekan tombol kiri mouse tanpa melepaskannya dengan sambil digeser. Drag ini akan mengakibatkan objek akan berpindah atau tersalin ke objek lain dan kemungkinan lainnya. Penekanan tombol kiri mouse dua kali secara cepat dan teratur disebut dengan klik ganda (double click) sedangkan menekan tombol kanan mouse satu kali disebut dengan klik kanan (right click)Mouse terdiri dari beberapa port yaitu mouse serial, mouse ps/2, usb dan wireless.
mouse
perangkat mouse
Mouse Wireless
c. Touchpad
Unit masukkan ini biasanya dapat kita temukan pada laptop dan notebook, yaitu dengan menggunakan sentuhan jari. Biasanya unit ini dapat digunakan sebagai pengganti mouse. Selain touchpad adalah model unit masukkan yang sejenis yaitu pointing stick dan trackball.
gambar-213a.jpg
Touch Pad
gambar-213b.jpg
Touch Pad Track Ball
gambar-213c.jpg
Pointing Stick
d. Light Pen
Light pen adalah pointer elektronik yang digunakan untuk modifikasi dan men-design gambar dengan screen (monitor). Light pen memiliki sensor yang dapat mengirimkan sinyal cahaya ke komputer yang kemudian direkam, dimana layar monitor bekerja dengan merekam enam sinyal elektronik setiap baris per detik.
gambar-214.jpg
perangkat Light Pen
e. Joy Stick dan Games Paddle
Alat ini biasa digunakan pada permainan (games) komputer. Joy Stick biasanya berbentuk tongkat, sedangkan games paddle biasanya berbentuk kotak atau persegi terbuat dari plastik dilengkapi dengan tombol-tombol yang akan mengatur gerak suatu objek dalam komputer.
gambar-215.jpg
Gambar Joy Stick dan Paddle Games
f. Barcode
Barcode termasuk dalam unit masukan (input device). Fungsi alat ini adalah untuk membaca suatu kode yang berbentuk kotak-kotak atau garis-garis tebal vertical yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk angka-angka. Kode-kode ini biasanya menempel pada produk-produk makanan, minuman, alat elektronik dan buku. Sekarang ini, setiap kasir di supermarket atau pasar swalayan di Indonesia untuk mengidentifikasi produk yang dijualnya dengan barcode.
gambar-217.jpg
Barcode Reader
gambar-216.jpg
contoh barcode
Gambar Barcode
g. Scanner
Scanner adalah sebuah alat yang dapat berfungsi untuk meng copy atau menyalin gambar atau teks yang kemudian disimpan ke dalam memori komputer. Dari memori komputer selanjutnya, disimpan dalam harddisk ataupun floppy disk. Fungsi scanner ini mirip seperti mesin fotocopy, perbedaannya adalah mesin fotocopy hasilnya dapat dilihat pada kertas sedangkan scanner hasilnya dapat ditampilkan melalui monitor terlebih dahulu sehingga kita dapat melakukan perbaikan atau modifikasi dan kemudian dapat disimpan kembali baik dalam bentuk file text maupun file gambar. Selain scanner untuk gambar terdapat pula scan yang biasa digunakan untuk mendeteksi lembar jawaban komputer. Scanner yang biasa digunakan untuk melakukan scan lembar jawaban komputer adalah SCAN IR yang biasa digunakan untuk LJK (Lembar Jawaban Komputer) pada ulangan umum dan Ujian Nasional. Scan jenis ini terdiri dari lampu sensor yang disebut Optik, yang dapat mengenali jenis pensil 2B. Scanner yang beredar di pasaran adalah scanner untuk meng-copy gambar atau photo dan biasanya juga dilengkapi dengan fasilitas OCR (Optical Character Recognition) untuk mengcopy atau menyalin objek dalam bentuk teks.
gambar-218.jpg
Scanner
Saat ini telah dikembangkan scanner dengan teknologi DMR (Digital Mark Reader), dengan sistem kerja mirip seperti mesin scanner untuk koreksi lembar jawaban komputer, biodata dan formulir seperti formulir untuk pilihan sekolah. Dengan DMR lembar jawaban tidak harus dijawab menggunaan pensil 2 B, tapi dapat menggunakan alat tulis lainnya seperti pulpen dan spidol serta dapat menggunakan kertas biasa.
h. Kamera Digital
Perkembangan teknologi telah begitu canggih sehingga komputer mampu menerima input dari kamera. Kamera ini dinamakan dengan Kamera Digital dengan kualitas gambar lebih bagus dan lebih baik dibandingkan dengan cara menyalin gambar yang menggunakan scanner. Ketajaman gambar dari kamera digital ini ditentukan oleh pixel-nya. Kemudahan dan kepraktisan alat ini sangat membantu banyak kegiatan dan pekerjaan. Kamera digital tidak memerlukan film sebagaimana kamera biasa. Gambar yang diambil dengan kamera digital disimpan ke dalam memori kamera tersebut dalam bentuk file, kemudian dapat dipindahkan atau ditransfer ke komputer. Kamera digital yang beredar di pasaran saat ini ada berbagai macam jenis, mulai dari jenis kamera untuk mengambil gambar statis sampai dengan kamera yang dapat merekan gambar hidup atau bergerak seperti halnya video.
gambar-219.jpg
kamera digital
i. Mikropon dan Headphone
Unit masukan ini berfungsi untuk merekam atau memasukkan suara yang akan disimpan dalam memori komputer atau untuk mendengarkan suara. Dengan mikropon, kita dapat merekam suara ataupun dapat berbicara kepada orang yang kita inginkan pada saat chating. Penggunaan mikropon ini tentunya memerlukan perangkat keras lainnya yang berfungsi untuk menerima input suara yaitu sound card dan speaker untuk mendengarkan suara.
gambar-220.jpg
headphone
j. Graphics Pads
Teknologi Computer Aided Design (CAD) dapat membuat rancangan bangunan, rumah, mesin mobil, dan pesawat dengan menggunakan Graphics Pads. Graphics pads ini merupakan input masukan untuk menggambar objek pada monitor. Graphics pads yang digunakan mempunyai dua jenis. Pertama, menggunakan jarum (stylus) yang dihubungkan ke pad atau dengan memakai bantalan tegangan rendah, yang pada bantalan tersebut terdapat permukaan membrane sensitif sentuhan ( touch sensitive membrane surface). Tegangan rendah yang dikirimkan kemudian diterjemahkan menjadi koordinat X – Y. Kedua, menggunakan bantalan sensitif sentuh ( touch sensitive pad) tanpa menggunakan jarum. Cara kerjanya adalah dengan meletakkan kertas gambar pada bantalan, kemudian ditulisi dengan pensil.
graphics_pads

2. Process device (unit Pemrosesan)
Power Supplay
Lower supplay menyediakan arus listrik untuk berbagai peralatan CPU power supplay mengkonversi listrik dan menyediakan aliran listrik tetap untuk digunakan komputer. Kualitas power supplay menentukan kwalitas kinerja komputer. Daya sebesar 300-400 wat yang disalurkan power supplay biasanya cukup bagi komputer yang digunakan untuk pengetikan ataupun grafik. Sementara, daya 400-500 watt dibutuhkan jika komputer bekerja menggunakan banyak menggunakan Periferal ( unit tambahan).
power supply
RAM (Random Access Memory) – Memory
RAM merupakan singkatan dari Random Access Memory biasanya disebut dengan istilah pendek yaitu Memori. Memory atau RAM merupakan sebuah perangkat keras komputer yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan data sementara. Memory bekerja dengan menyimpan dan menyuplai data-data penting yg dibutuhkan Processor dengan cepat untuk diolah menjadi informasi. pengertian ram lebih detail klik di sini
RAM
Kartu grafis (unit keluaran)
Kartu grafis, atau kartu video adalah kartu ekspansi yang berfungsi untuk menciptakan dan menampilkan tampilan-tampilan di layar. Kartu grafis ini terdiri dari rangkaian komponen elektronika. Biasanya tertancap pada slot di papan utama CPU pada komputer. Beberapa kartu grafis menawarkan fungsi lain, seperti menangkap video, dan adaptor untuk penala TV, menguraikan MPEG-2 dan MPEG-4, FireWire, dan menghubungkan menuju beberapa layar. Beberapa perusahaan yang membuat kartu grafis terkenal antara lain adalah ATI, Matrox, dan NVIDIA.
kartu grafis
Prosesor (unit pemprosesan)
Pengertian Prosesor, atau yang biasanya disebut dengan CPU, adalah otak dari komputer. Prosesor adalah komponen yang mengeksekusi perhitungan kompleks yang memungkinkan komputer untuk bisa digunakan menjelajah internet, memutar lagu di iTunes, dan menjalankan sistem operasi Anda, pengertian prosesor <– lengkap klik di sini
prosesor
Motherboard (unit pemprosesan)
Motherboard atau Papan induk adalah papan sirkuit tempat berbagai komponen elektronik saling terhubung, motherboard biasa disingkat dengan kata mobo. Pada motherboard inilah perangkat keras seperti Harddisk, ram, prosesor, kartu grafis, dan perangkat keras lain dihubungkan.
Motherboard yang banyak ditemui dipasaran saat ini adalah motherboard milik PC yang pertama kali dibuat dengan dasar agar dapat sesuai dengan spesifikasi PC IBM.
motherboard

3. Output device ( Unit keluaran )
Monitor
monitor komputer adalah salah satu jenis soft-copy device, karena keluarannya adalah berupa signal elektronik, dalam hal ini berupa gambar yang tampil di layar monitor. Gambar yang tampil adalah hasil pemrosesan data ataupun informasi masukan. Monitor memiliki berbagai ukuran layar seperti layaknya sebuah televisi. Tiap merek dan ukuran monitor memiliki tingkat resolusi yang berbeda. Resolusi ini lah yang akan menentukan ketajaman gambar yang dapat ditampilkan pada layar monitor. Jenis-jenis monitor saat ini sudah sangat beragam, mulai dari bentuk yang besar dengan layar cembung, sampai dengan bentuk yang tipis dengan layar datar (flat).
monitor
Printer
Printer merupakan sebuah perangkat keras yang dihubungkan pada komputer yang berfungsi untuk menghasilan cetakan baik berupa tulisan ataupun gambar dari komputer pada media kertas atau yang sejenisnya. Jenis printer ada tiga macam, yaitu jenis Printer Dot metrix, printer Ink jet, dan printer Laser jet. klik di sini –> pengertian printer lebih detail
printer
speaker
Sepaker di sini pengertiannya sama dengan speaker pada umumnya, Speaker adalah transduser yang mengubah sinyal elektrik ke frekuensi audio (suara) dengan cara menggetarkan komponennya yang berbentuk selaput.
speaker

4. Backing Storage ( unit penyimpanan)
Harddisk (HDD)
Harddisk bisa juga disebut Harddisk drive (HDD) atau hard drive (HD), Harddisk adalah sebuah salah satu perangkat keras komputer yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan data sekunder, di dalam harddisk berisi piringan magnetis. Harddisk pertama kali diciptakan oleh salah satu insinyur IBM, ia adalah Reynold Johnson pada tahun 1956. Harddisk yang juga dikenal dengan nama piringan keras ini pertama kali terdiri dari 50 piringan berukuran 2 kaki atau 0,6 meter, dengan kecepatan putaran mencapai 1.200 rpm (rotation per minute) dengan kapasitas penyimpanan 4,4 MB.
Data yang disimpan dalam harddisk tidak akan hilang ketika tidak diberi tegangan listrik. Dalam sebuah harddisk, biasanya terdapat lebih dari satu piringan untuk memperbesar kapasitas data yang dapat ditampung.
Dalam perkembangannya harddisk ukuran fiskiknya menjadi semakin tipis dan kecil namun memiliki daya tampung data yang sangat besar. Harddisk saat juga tidak hanya dapat terpasang di dalam perangkat (internal) tetapi juga dapat dipasang di luar perangkat (eksternal) dengan menggunakan kabel USB ataupun kabel lain yang mendukung.
harddisk

5. Periferal (unit tambahan)
Contoh perangkat keras komputer yang termasuk dalam unit tambahan atau periferal antara lain
Modem
pengertian Modulator adalah suatu rangkaian yang berfungsi melakukan proses modulasi, yaitu proses “menumpangkan” data pada frekuensi gelombang pembawa (carrier signal) ke sinyal informasi/pesan agar bisa dikirim ke penerima melalui media tertentu ( seperti media kabel atau udara), biasanya berupa gelombang sinus. Dalam hal ini sinyal pesan disebut juga sinyal pemodulasi. Data dari komputer yang berbentuk sinyal digital dirubah menjadi sinyal Analog, klik di sini untuk pengertian modem lebih detail

kartu suara
Kartu suara (Sound Card) adalah suatu perangkat keras komputer yang digunakan untuk mengeluarkan suara dan merekam suara. Pada awalnya, Sound Card hanyalah sebagai pelengkap dari komputer. Namun sekarang, sound card adalah perangkat wajib di setiap komputer. Dilihat dari cara pemasangannya, sound card dibagi 3:
- Sound Card Onboard, yaitu sound card yang menempel langsung pada motherboard komputer.
- Sound Card Offboard, yaitu sound card yang pemasangannya di slot ISA/PCI pada motherboard. Rata-rata, sekarang sudah menggunakan PCI
- Soundcard External, adalah sound card yang penggunaannya disambungkan ke komputer melalui port eksternal, seperti USB atau FireWire
kartu suara